Suara Gembala

Pelayanan Sakramen: Mengatasi Pandemi Rohani


Pada saat melewati pasar Cicadas untuk misa pagi di Gereja St. Odilia, Cicadas Bandung, jam 06.00, 21 Maret 2020, kami bertiga heran karena pasar ramai seperti biasa. Padahal kegiatan-kegiatan harus sudah dilakukan dengan jarak tertentu (physical distancing). Pada waktu itu sudah dimulai bekerja dari rumah dan sekolah dari rumah. Waktu kami bercerita tentang hal ini, pastor paroki menjawab sambil berkelakar tetapi mengandung makna yang dalam. “Bagi masyarakat sederhana (rakyat miskin), lebih baik berbuat sesuatu untuk mendapat nafkah walau berisiko mati daripada mati dengan tidak berbuat sesuatu karena tak apa pekerjaan, tak ada uang, dan tak ada makanan.”


Situasi Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan bisa membuat orang menjadi lebih, yang menurut istilah kaum, mager (malas gerak). Semua dilakukan di rumah, di tempat sendiri, tanpa harus bergerak keluar rumah; berkemas-kemas dan berjalan tergesa-gesa setengah berlari agar jangan terlambat masuk kantor atau kelas. Kalau tak ada kegiatan kreatif produktif yang dilakukan, orang bisa makin mager. Maka, bisa jadi bukan hanya virus Corona yang menyebar dan menular dengan cepat tanpa permisi, tetapi juga virus mager. Malas bergerak bisa tampak dalam situasi seseorang yang malas bekerja, malas bergaul, malas ke Gereja, malas … dan malas … ketika sudah dimungkinkan dengan alasan rasional bahwa memang masih ada pembatasan sosial bersekala besar dan ada anjuran untuk secara membuat jarak secara fisik. Kalau hal ini tak disadari, bukankah virus mager juga menyebar dan menular.


Syukur kepada Allah, akhirnya pemerintah membuat kebijakan baru berkaitan dengan normalitas baru yang mendorong orang untuk mulai beraktivitas normal dengan tanda petik, yaitu normalitas dengan mengikuti prosedur kesehatan yang tapat dan ketat. Salah satu tujuan kehidupan normal dengan patuh tata tertib hidup sehat ini adalah memperbaiki ekonomi nasional yang berdampak terutama pada masyarakat kecil. Orang diajak untuk selalu menjaga jarak, memakai masker, kerap mencuci tangan, bahkan memakai pelindung wajah dan alat-alat lain untuk pencegahan penularan. Dengan adanya pembatasan sosial lebih dari tiga bulan, kita mulai terbiasa dengan melakukan tindakan pencegahan dengan mengikuti prosedur kesehatan. Tanpa disuruh dan diingatkanpun, kini makin banyak orang spontan (menjadi biasa dan kebiasan) untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menggunakan fasilian pelindung lain.


Bukan hanya tempat kerja, pusat perbelanjaan, rumah makan, dan tempat rekreasi yang kini sudah diijinkan beroperasi sesuai dengan ketentuan kesehatan, tetapi juga rumah ibadat. Maka, Gereja Katolik pun mulai membuka pelayanan sakramen secara publik terbatas sesuai standar kesehatan yang dituntut. Gereja di Keuskupan Bandung bisa mulai merayakan misa dengan umat pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pada bulan 14 Juni 2020. Prosedur kesehatan pun dilakukan. Para petugas pastoralnya, terutama imam, melakukan tes rapid Covid-19 secara rutin untuk menjamin kesehatannya. Para umat pun diperiksa sesuai prosedur. Tata pelayanan pun disiapkan dengan baik. Bahkan sebelumnya, diadakan sosialisasi dan animasi bagaimana mengikuti atau berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi di masa pandemi.


Salah satu keputusan memulai pelayanan sakramen terbuka untuk umat pun adalah untuk mencegah meluaskan virus mager yang bisa melumpuhkan kehidupan rohani kita sebagai murid Kristus yang sumber dan puncak imannya adalah Sakramen Ekaristi. Bagaimana mungkin kalau kekuatan spiritual yang sangat penting untuk kehidupan iman kita tidak bisa kita dapatkan secara real. Syukur kepada Allah bahwa umat bisa mengikuti perayaan Ekaristi secara virtual dengan komuni batin. Ini pasti sangat bermanfaat untuk meneguhkan kekuatan kita. Akan tetapi, misa virtual ini, tetaplah tak bisa menggantikan misa real yang adalah sakramen. Maka, pelayanan sakramen pada masa pandemi bisa juga mengatasi potensi pandemi rohani, di mana godaan dan kekuatan iblis terus berusaha menjauhkan kita dari Allah. Maka, tak ada alasan pelayanan sakramen tak bisa dilakukan secara terbuka bagi umat kalau prosedur kesehatan sudah disiapkan dan dilaksanakan dengan baik dan benar serta tepat dan akurat yang didukung oleh kebijakan pejabat setempat yang berwenang. Ada umat yang berceloteh: “Umat sudah senang dan tenang dengan misa live streaming karena praktis, tak butuh bergerak ke Gereja, hanya di tempat bahkan bisa di kamar dengan hp. Misa online sudah menjadi kebiasaan. Maka, sebagian umat malas ke Gereja karena ancaman virus masih ada bahkan tampak merajalela.” Umat lain berkomentar: “Ada orang yang pergi ke pasar bisa dan ngopi di kafe biasa, tetapi tak berani ke Gereja karena takut wabah Corona, padahal bukankah Gereja merupakan salah satu tempat teraman karena penerapan prosedur kesehatan yang ketat.” Itulah dua contoh komentar orang terkena virus mager yang bisa menjadi pandemi rohani.


Dalam bulan Agustus yang baru lalu, saya melayani beberapa sakramen dengan prosedur yang ketat agar gereja jangan pernah menjadi klaster baru dari penularan virus Corona sehingga kegiatan sakramental dapat berjalan dengan lancar. Saat saya akan meneguhkan perkawinan, saya minta semua orang yang terlibat dalam upacara perkawinan tersebut, melakukan tes kesehatan resmi, terutama pengantin, kedua orang tuanya, dan saksi. Acara pun diatur sedemikian rupa sehingga norma kesehatan dapat diterapkan dengan baik dan benar. Demikian juga, saat saya melayani sakramen tahbisan, para diakon dan keluarganya harus menjalani tes. Waktu memimpin perayaan Ekaristi pengucapan Kaul Agung Suster OCD (Karmel Lembang), yang hadir pun hanya orang tua. Semua upacara dilakukan internal. Pada perayaan Ekaristi Ulang Tahun pertama Paroki St. Yohanes Pembaptis, Ciamis, prosedur kesehatan dilakukan sangat ketat walau diikuti banyak umat. Semua umat tanpa kecuali yang sudah terdata dan akan hadir harus menjalani tes rapid untuk memastikan kondisi kesehatannya. Semua pelayanan sakramen tersebut diatas disiarkan pula secara live.

 

Semoga pandemi covid-19 ini tidak membuat kita mager dalam pelayanan dan keikutsertaan dalam kegiatan sakramental dan pastoral. Semoga Virus Corona yang telah menjadi pandemi ini tidak menyebabkan pandemi rohani secara negatif (kekeringan rohani) karena tiada kesempatan untuk berpartisipasi dalam sakramen, terutama Ekaristi dan rekonsiliasi. Marilah kita bergerak, bahkan lebih gesit bergerak untuk pelayanan sakramental dan pastoral secara lebih kreatif dan produktif.



Ut diligatis invicem,

Antonius Subianto B OSC