DKP

 

Ecclesiana

Diskusi Jurnalistik

Semakin bermutu informasi yang beredar dalam suatu komunitas, semakin bermutu komuntas tersebut. Bagaimana informasi yang bermutu dan bagaimana membuatnya?


Orang mencari atau menemukan fakta lantas mengungkapkannya kepada publik disebut praktik jurnalisme. ''Saya ingin Anda menjalankan jurnalisme. Saya tidak ingin bulletin Anda menjadi propaganda agama. Propaganda cenderung menebarkan kebencian dan memojokkan pihak lain,'' tegas Andreas Harsono, jurnalis senior peraih beasiswa Nieman Fellow on Journalism di Universitas Harvard (Cambridge). Penegasan ini disampaikannya di depan sekitar 40 orang pengelola atau anggota redaksi bulletin paroki dan sekolah Katolik dalam Diskusi Jurnalistik bertema: 'A9ama' Jurnalisme bagi Warga Gereja, Rabu (13/4) di Auditorium DKP Jl. Jawa 6, Bandung.
Lebih jauh, salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen ini dengan tegas menolak pengertian ataupun praktek jurnalisme agama. ''Tidak ada yang namanya jurnalisme Islami, Katolik, Hindu, dll. Yang ada adalah dakwah Islami atau misi Kristiani. Keduanya dalam istilah populer dikenal dengan nama propaganda,'' paparnya.
Dalam menjalankan jurnalisme yang benar, Andreas memaparkan beberapa prinsip yang harus dipatuhi oleh para jurnalis.  ''Dalam jurnalisme ada 'kitab suci' yang berisi prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam ''jurnalisme'' ungkapnya merujuk pada buku terjemahannya  'Sembilan Elemen Jurnalisme' karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (Yayasan Pantau, 2003).
Dari kesembilan prinsip dalam buku tersebut ada tiga yang sempat diangkat ke pembicaraan. Pertama, loyalitas jurnalisme yang pertama-tama adalah kepada masyarakat, bukan kepada audiens (pembaca), penguasa, atau pemilik modal. Prinsip ini mengandakaikan pelaku jurnalisme lebih mengutamakan apa yang perlu atau dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan pada sebatas apa yang diingini masyarakat. Mengutamakan infotainment atau gosip artis dalam pemberitaan merupakan contoh penyimpangan prinsip ini.
Kedua, esensi jurnalisme adalah verifikasi. Setiap detil informasi harus dicek dulu kebenarannya. Prinsip ini mensyaratkan jurnalis untuk tidak segan-segan turun lapangan mencari informasi, wawancara, dan klarifikasi. Budaya copy-paste yang tidak tahu siapa penulis asli atau sumber beritanya adalah penyimpangan prisnip kedua ini.
Ketiga, memantau kekuasaan baik kekuasaan negara, militer, bisnis, media, atau agama tergantung dimana media atau bulletin yang ditangani bergerak. Prinsip ini tidak menutup kemungkinan bagi bulletin gereja untuk lebih berani mengkritisi kebijakan pastor paroki atau DPP atau PGAK walau bulletin itu sendiri di bawah tanggung jawab atau pembiayaan paroki. ''Walau ada conflict of interest, loyalitas utama kita adalah pada warga Gereja atau umat sebagai pihak yang kita layani'' tegas anggota International Consortium for Investigative Journalists (Washington DC) dan Human Rights Watch (New York) ini.
Mengingat perkembangan pemakaian internet yang begitu pesat, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, merevisi buku. Saat buku itu disusun sepuluh tahun yang lalu, internet tidak sebesar sekarang. Dalam edisi revisi, kedua penulis menambahkan satu prinsip lagi dalam jurnalisme. Elemen kesepuluh itu menyatakan bahwa warga punya kewajiban dan tanggung jawab tentang jurnalisme.
Internet membuat warga semakin mudah tidak hanya sebagai penerima informasi namun juga sebagai pembuat dan pemberi informasi. Namun sering terjadi, informasi yang beredar diinternet jauh dari kaidah-kaidah jurnalisme yang benar. Budaya copy-paste tanpa ada verifikasi kebenaran informasi bisa sangat menyesatkan warga sendiri. Maka, menurut Andreas Harsono, kita dituntut untuk memberikan sebanyak mungkin informasi yang benar dan sesuai prinsip-prisnsip jurnalisme. Informasi itu tidak hanya terbatas melalui media cetak. ''Harus dengan website, dengan twitter,  facebook, youtube. Anda tidak hidup di jaman batu!'' tegasnya. ''Itu yang akan membuat masa depan Gereja di tangan anak-anak muda bisa lebih terjamin,'' ungkap Andreas menutup uraiannya.

Galeri Foto

Peserta Diskusi
Andreas Harsono