DKP

 

Editorial Majalah Komunikasi 381 Juli 2012

ANAK-ANAK: HARAPAN DAN MASA DEPAN

Bila kita mengamati berita seputar anak-anak Indonesia, kita akan menemukan berita yang sangat menghebohkan seperti halnya seorang balita merokok, mengkonsumsi kopi dan minuman keras serta terbiasa berbicara kotor. Berita menghebohkan paling up to date seputar anak adalah anak kelas dua SD diajarkan tentang isteri simpanan.
Santo Yohanaes Maria Vianney, santo pelindung para imam diosesan, pernah mengatakan bahwa iman yang ditanamkan pada usia kanak-kanak dengan pemahaman yang tepat merupakan langkah penting bagi penghayatan iman pada usia remaja dan dewasa. Karena itu dengan bahasa sederhana dan keteladanan hidup, Maria Vianney mencoba memberi pelajaran tentang dasar-dasar iman kepada anak-anak di Paroki Ars, Perancis Selatan. Pendasaran iman untuk anak-anak baginya  merupakan prioritas.
Prioritas akan diusahakan dan diperjuangkan sekuat dan sebisanya. Tetapi sebaliknya prioritas tidak diwujudkan karena ketidakmampuan dan ketidakpedulian. Sudahkah setiap keluarga Katolik menjadikan pendidikan iman anak sebagai prioritas?
Di masa yang semakin bebas ini menjadi tantangan yang berat bagi orang tua, termasuk orang tua Katolik, untuk bisa mendidik dan mendampingi anaknya sehingga bisa menjadi anak yang dapat menjadi harapan dan masa depan Gereja Katolik. Hal ini mengingat situasi sekarang yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan komunikasi serta kesibukan dari orang tua yang semakin mengurangi kebersamaan dan perhatian yang diberikan kepada anak-anak. Kita tidak dapat menyalahkan siapapun, hanya saja sebaiknya kita intropeksi diri akan beberapa hal di bawah ini:
Pertama, pendampingan dan perhatian keluarga. Keluarga adalah lingkungan terkecil dan terdekat dari anak-anak, sehingga keluargalah faktor terpenting untuk bisa membentuk kepribadian dan karakter. Melalui pendampingan dan perhatian akan menjadikan anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang sehingga berdampak pada psikologis anak yang positif.
Kedua, peran dunia pendidikan dan sekolah. Beranjak dari lingkup keluarga, di sekolah anak-anak akan bertemu dan bergaul dengan berbagai karakter teman. Ada yang berdampak positif ada juga yang berdampak negatif. Sehingga di sini peran guru dan pembimbing sekolah sangat diperlukan untuk menjamin pergaulan anak.
Ketiga, peran lingkungan masyarakat. Melebar ke lingkungan yang lebih luas, perkembangan anak dipengaruhi juga dengan lingkungan sekitar. Sebagian waktu selain berada di sekolah anak akan melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar mereka berada.
Dengan kondisi yang kondusif di keluarga, sekolah dan paroki serta masyarakat, anak-anak dapat dibentuk dan diarahkan untuk memberikan dirinya kepada Tuhan dan masyarakat sekitarnya, sehingga pada akhirnya kekristenan dapat membentuk masyarakat yang berdasarkan nilai-nilai Kristiani, yakni nilai-nilai Kerajaan Allah. Semoga kata-kata Yesus, ''Biarkan anak-anak datang kepadaKu karena merekalah yang empunya kerajaan surga'' sungguh memacu kita semua untuk menjadikan keluarga, sekolah, paroki dan lingkungan masyarakat sebagai tempat yang nyaman dan aman bagi pertumbuhan anak-anak kita.

***Yustinus Nana Sujana, OSC


Galeri Foto

Editorial Majalah Komunikasi 381 Juli 2012