DKP

 

Bersama Uskup, Majalah Komunikasi 381 Juli 2012

PEMBINAAN IMAN ANAK SEBAGAI GENERASI PENERUS GEREJA

Mgr. Ignatius Suharyo, Administrator Apostolik Keuskupan Bandung

Pengantar

Dalam beberapa kali pertemuan dengan umat, saya mengajukan pertanyaan seperti ini : ''Apakah Ibu/Bapak mengirim anak-anak untuk ikut les bahasa Inggris?''  - sebagaian besar menjawab ya. Demikian juga untuk mata pelajaran lain seperti matematika, kimia. Lalu saya mengajukan pertanyaan berikut : ''Apakah Ibu/Bapak juga mengirim anak-anak untuk ikut les agama Katolik? ''. Sampai sekarang kalau saya lontarkan pertanyaan itu, tidak ada yang menjawab. Jawaban peserta biasanya hanya senyum kecut. Sebetulnya, jawaban yang diharapkan adalah, ''Tidak, kami tidak mengirim anak-anak ikut les agama Katolik, karena mereka kami ajari sendiri.'' Betapa bahagianya kalau suatu ketika saya mendapat jawaban seperti itu.

Belajar dari Kitab Suci : Iman Timotius

Dalam suratnya kepada Timotius yang kedua, Rasul Paulus menulis, ''Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam Nenekmu Lois dan di dalam Ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu'' (1:5). Dalam ayat ini kita lihat bagaimana iman diwariskan dalam keluarga. Nama atau kata Timotius berarti orang yang menghormati Allah. Nama yang disandangnya sudah menyatakan pribadi seperti apakah dia itu. Bapaknya seorang yang tidak beriman, sedang Ibunya seorang Yahudi Kristiani (Kis 16:1-4). Imannya ia warisi dari neneknya Lois dan Ibunya Eunike. Oleh Rasul Paulus dia disebut sebagai ''anakku yang sejati dalam iman'' (1 Tim 1:2.18), atau ''anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan'' (1 Kor 4:17). Sejak kecil Timotius sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat dan menuntun seseorang kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus (2 Tim 3:15). Pada usia yang masih terhitung muda (1 Tim 4:12), dan mungkin juga dengan fisik yang tidak begitu kuat (1 Tim 5:23), ia bergabung dalam pelayanan Rasul Paulus. Timotius tidak hanya bergabung dalam arti ikut dalam perjalanan, tetapi senasib dan sepenanggungan dengan Rasul Paulus. Rasul Paulus menulis, ''...engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku... ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita ...''( 2 Tim 3:10-11).

Dari beberapa keterangan ini dapat disimpulkan dengan mudah, bahwa iman yang diwariskan dalam keluarga, merupakan landasan yang amat kokoh bagi seseorang untuk menjadi semakin matang, utuh dan dewasa, pendek kata menjadi pribadi yang berhikmat.

Timotius : Pribadi yang berhikmat
 
Dikatakan bahwa Timotius sejak kecil sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat. Bisa diandaikan bahwa Timotius dididik dalam keluarga menurut tradisi yang berlaku dalam keluarga Yahudi. Yang disebut hikmat adalah yang dikatakan dalam Ul 6:4-5 :''Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu''. Selanjutnya dikatakan, ''Apa yang kuperintahkan kepadamu ... haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya...'' (ay 6-9). Hikmat inilah yang dirinci secara lebih jelas misalnya dalam Kitab Amsal (Amsal 2:1-22; 3:1-26; 4:1-27). Hikmat atau kebijaksanaan ini adalah harta yang tak ternilai harganya, yang akan memimpin, menjaga dan mengarahkan hidup seseorang kepada kebahagiaan yang sejati. Hikmat mengarahkan hidup seseorang dari dalam batinnya, sehingga hidup orang yang berhikmat tidak akan terombang-ambing oleh pancingan-pancingan dari luar yang akan membuatnya kehilangan arah.

Tradisi dan proses de-tradisionalisasi

Salah satu arus deras yang mengalir pada zaman modern ini disebut proses de-tradisionalisasi. Artinya, yang semula menurut tradisi dianggap baik, mulia, sekarang kalau pun tidak ditolak, sekurang-kurangnya dipertanyakan. Dengan berbagai macam informasi yang tersedia, seseorang dapat memilih sendiri informasi mana yang menurut dia cocok dengan dirinya, meskipun belum tentu baik dan benar. Berdasarkan informasi yang ia pilih itu, ia akan mengambil keputusan-keputusan yang menentukan hidupnya. Saya pernah diminta oleh sekelompok kaum muda untuk berbagi pengalaman dan pendapat mengenai apa saja yang dapat membuat seseorang berkepribadian kuat dan tangguh. Dengan berbagai macam cara saya berusaha menjelaskan keyakinan dan pengalaman saya dan saya tutup dengan pepatah, ''Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian''. Waktu itu saya yakin bahwa yang saya sampaikan akan mereka terima. Dan tinggal selangkah lagi untuk mengatakan ''Melalui salib menuju kebangkitan''. Apa reaksi mereka ? Seorang peserta mengatakan, ''Rama, itu sudah kuno!'' Belum lagi kalau diperhitungkan juga proses sekularisasi yang dengan mudah menjadi sekularisme yang praktis tidak memberi tempat untuk Tuhan dalam kehidupan. Seperti apapun besarnya tantangan yang harus dihadapi, proses pewarisan iman dalam keluarga mesti terus dilakukan. Ini hanya mungkin kalau, seperti dikatakan oleh Beato Yohanes Paulus II, keluarga-keluarga menjadi sebagaimana seharusnya suatu keluarga. Untuk menjelaskan hal ini, perlu tulisan lain lagi.

Akhir kata

Meskipun tidak langsung berkaitan dengan tema yang dicoba diulas, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kata-kata bijak yang dirangkai oleh Dorothy Law Nolte :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Silakan menuruskan litani ini dengan pengalaman Anda masing-masing. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda

I. Suharyo
Administrator Apostolik Keuskupan Bandung


Galeri Foto

Bersama Uskup, Majalah Komunikasi 381 Juli 2012