DKP

 

Warta Utama Majalah Komunikasi 381 Juli 2012

MENDAMPINGI ANAK, SEBUAH TANTANGAN

MENDAMPINGI ANAK, SEBUAH TANTANGAN

''Anak-anak adalah makhluk yang sangat menakjubkan, maka ketika diberi kesempatan untuk mendampingi anak-anak dalam wadah Bina Iman Anak (BIA) di paroki, saya menemukan Tuhan dalam diri mereka.Walaupun tidak mendapat balas jasa dalam bentuk materi, namun pelayanan ini memberikan banyak pengalaman serta pembelajaran,'' ucap Damiana Suhartati, seksi pewartaan dan salah satu Pendamping Bina Iman Anak di Paroki St. Ignatius Cimahi.

Beragam Motivasi: berawal iseng berbuah cinta
Bagi Veronika Retno Rudatin menjadi pendamping Bina Iman Anak (BIA) berawal dari sekedar iseng. Hal ini diakuinya dengan jujur karena pada mulanya Retno tidak suka dengan anak-anak. Berkali-kali ada yang mengajak untuk menjadi pendamping bina iman, Retno selalu tidak merespon. Suatu ketika, dari sebuah pengalaman yang sederhana, ada satu orang anak minta diantar  ke toilet, sejak kejadian itu, Retno selalu hadir selama 1 tahun penuh untuk pendampingan Bina Iman Anak. Retno mulai terpesona untuk mendampingi anak-anak yang dibangun dengan perlahan tetapi pasti. ''Pada awalnya hanya menunggu anak-anak, kemudian membagi-bagikan kertas tugas, memimpin menyanyi, bercerita, membacakan Alkitab, membagikan kotak persembahan. Ketertarikan ini menjadi semakin mendalam setelah mengikuti kursus Shekinah selama 3-4 tahun. Rasa benci menjadi cinta yang mendalam. Dan  semakin diteguhkan saat mendampingi anak-anak sekolah negeri pada tahun 1996-1997,'' ujar Sekretaris Komisi Karya Kepausan Indonesia dan Karya Misioner (KobarMilan) Keuskupan Bandung ini.
''Melayani anak-anak  tidaklah sulit, asalkan ada kebersamaan dalam melakukan berbagai kegiatan, terutama kesatuan hati dari para pendamping. Perbedaan pandangan merupakan hal lumrah, yang perlu dicari solusinya bukan untuk dihindari. Doa menjadi  hal pokok untuk  menunjang karya pelayanan di ladang Tuhan,''  ungkap Hilda Hastuti, seorang Pendamping Bina Iman Anak dari Paroki Santo Gabriel, Sumbersari. Menjadi pendamping Bina Iman Anak bagi Tuti, demikian biasa ia dipanggil, awalnya membuat dirinya tidak senang. Namun cinta Tuhan yang besar membuatnya tergerak dan berpasrah atas panggilan ini.
Roh Kudus menjadi sumber inspirasi dalam berkarya agar komitmen senantiasa terjaga. Retno menuturkan, ''Bila melihat kenyataan setelah satu minggu bekerja, tentunya berharap agar hari Minggu pagi bisa beristirahat. Namun apapun kendalanya tidak menyurutkan langkah saya untuk menjadi pendamping bina iman anak  hingga saat ini.'' Hal serupa di-amin-i Tuti, ''Teman-teman pendamping sebagian besar ibu rumah tangga dan guru. Walaupun banyak pendamping yang keluar masuk, serta diperlukan waktu persiapan serta pemikiran dalam menyampaikan Kabar Gembira  setiap Minggu, kami tetap bersemangat dalam melayani anak-anak,'' ujar ibu dua anak ini  menjelaskan.

Model Pendampingan
    Model pendampingan Bina Iman Anak (BIA) perlu disesuaikan dengan kebutuhan, kontekstual, serta fleksibel dan tidak bergantung dari satu sumber saja. Retno bersama rekan-rekan  selama ini  menggunakan bahan yang disediakan dari Karya Kepausan Indonesia. ''Materi yang diberikan antara lain: bacaan mingguan Kitab Suci,  kisah Santo-Santa, penjelasan sederhana Dokumen Konsili Vatikan II, toleransi, kekayaan tradisi Gereja seperti doa Rosario dan lain-lain. Ditambah dengan berbagai aktivitas misalnya: permainan, menggambar, menempel, kuis cepat-tepat, persembahan, dan doa,'' paparnya.
    Tuti memiliki pandangan yang sama dengan yang diungkapkan Retno, yakni perlunya mensiasati model pendampingan sesuai dengan kebutuhan. “Para pendamping  perlu terus menerus berinovasi serta dilengkapi dengan sisi rohani atau spiritualitas dari pastor paroki,” ujar lulusan Arsitektur Unpar ini menjelaskan.  Adapun model pendampingan yang digunakan di Paroki Gabriel Gandarusa ini diambil dari PELITA, Pelatihan Pembimbing Iman Anak dari Jakarta, dan  ada pula yang diambil dari GKI Fajar Pengharapan. ''Model yang digunakan biasanya dilakukan secara variatif, baik  cerita boneka, ataupun drama. Materi yang diberikan bukan hanya pengembangan iman, tetapi pengembangan karakter pula. Hal menarik yang dilakukan agar anak-anak rajin datang, yaitu  dengan membuat daftar hadir berbentuk puzzle (potongan gambar) dengan model gambar Yesus, bila salah satu bagian hilang, gambarnya menjadi tidak utuh,'' paparnya.
    Sukacita dalam pendampingan Bina Iman Anak tentunya menghasilkan buah-buah kreativitas dalam merumuskan dan mempersiapkan materi. Seperti diakui Damiana Suhartati, biasa dipanggil Anna, ''Karena menikmati dan senang dengan pendampingan anak, kami tidak pernah kehabisan ide untuk melakukan berbagai acara untuk Bina Iman Anak, seperti pentas seni, Safari Kitab Suci atau camping rohani. Tidak pernah cape dari pelayanan ini karena tertutupi dengan senangnya dan antusiasnya anak-anak dengan acara yang kami selenggarakan.'' ''Buktinya, kami bisa bertahan mendampingi Bina Iman Anak Cimahi sampai 8 tahun,” ujar Angela, salah seorang pendamping BIA Paroki St. Ignatius, Cimahi menambahkan''.

Tantangan dan kesempatan
    Mengantar anak-anak menjadi pribadi yang utuh, berhasil dan tangguh dalam menghadapi berbagai gejolak kehidupan di masa depan tentu menghadapi berbagai macam tantangan. Menurut Tuti, Bina Iman Anak (BIA) dan Bina Iman Remaja (BIR) merupakan landasan dasar yang amat penting. Di Paroki St. Gabriel  pendampingan Bina Iman Anak dibagi dalam kelas berdasarkan usia.  Anak-anak usia balita, anak-anak kelas 1- 4 Sekolah Dasar dan usia remaja (berusia 9-10 tahun). ''Perlu adanya kesinambungan setelah pendidikan dasar ini. Biasanya mereka diajak terlibat dalam kegiatan paduan suara atau putra altar. Satu generasi yang perlu mendapatkan perhatian juga, yaitu anak-anak setelah menerima komuni pertama. Biasanya mereka hilang karena kurang mendapatkan perhatian,'' katanya.
    Retno mengakui salah satu kelemahan dari pendampingan bina iman di paroki umumnya dikarenakan seringnya pergantian para pembina dan regenerasi yang kurang baik. ''Terlalu seringnya pergantian para pembina dalam waktu yang singkat merupakan tantangan tersendiri. Kita  perlu memberikan pelatihan kepada para pendamping dengan tema-tema  dan metode yang baru, seperti story telling serta mengajak keterlibatan orang-orang yang sudah berpengalaman untuk melakukan pengembangan,'' akunya seraya menekankan perlunya diupayakan orang yang memberikan perhatian secara khusus, tenaga purna waktu, untuk pendampingan Bina Iman Anak.
Para pembina Bina Iman Anak di paroki-paroki sebagai bagian dari Gereja Universal tentunya perlu untuk saling berbagi. Para pendamping  dari Paroki St. Ignatius Cimahi mengharapkan adanya sebuah wadah tukar ide, pendalaman materi serta pembelajaran bersama. Mereka pun berharap agar umat, khususnya Orang Muda Katolik (OMK), untuk  mau dan rela terlibat menjadi Pendamping Bina Iman Anak.
    
Dukungan dan Harapan
Orangtua dan keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak dalam  menanamkan nilai-nilai kehidupan dan iman  diakui tetap memegang peranan penting. Itulah harapan para pendamping Bina Iman Anak. ''Saya ingin mengajak  mengubah pola pikir umat, yakni Bina Iman Anak itu bukan sekedar tempat penitipan anak. Anak-anak dan remaja itu merupakan fondasi penting agar tidak terjadi putusnya generasi. Untuk itu dibutuhkan tenaga sukarela yang cukup banyak  sekaligus peningkatan kapasitas sumber daya yang sudah ada,'' paparnya sambil mengungkapkan bahwa Bina Iman Anak wilayah Sarimawartoba dalam waktu dekat  akan mengadakan kegiatan di Bale Pare dengan fokus character building.
Bina Iman Anak bisa berkembang tentunya tidak lepas dari dukungan Gereja, seperti  yang dialami para pendamping Bina Iman Anak di Paroki St. Ignatius Cimahi. ''Kami menyadari bahwa kendati  Bina Iman Anak bisa berkembang atas dukungan paroki, namun tetap dirasa belum optimal,'' ujar Loisa Lili. Senada juga dengan yang diungkapkan Retno, ''Selain kesadaran orang tua untuk mendukung materi pengajaran dan sumber daya manusia, pembinaan iman anak tetap membutuhkan sarana-prasarana yang memadai, infrastruktur serta fasilitas. Untuk itu dukungan dari DPP dan PGAK sangat dibutuhkan.''
Merupakan rahmat yang luar biasa, atas dedikasi dan pelayanan beberapa umat dan para pendamping Bina Iman Anak yang telah mempersembahkan hati, waktu dan tenaganya untuk mendampingi anak-anak. Amat layak dan pantas jika kita memberikan apresiasi serta berterima kasih kepada mereka semua yang terlibat dalam kegiatan pembinaan iman anak. Pandai mengajar,pintar menyanyi dan mendongeng bukanlah syarat utama untuk terlibat, namun yang terpenting adalah merasa terpanggil, mau berkorban serta memiliki komitmen tinggi.

***  Edy/Devi/Herman


Galeri Foto

Warta Utama Majalah Komunikasi 381 Juli 2012
Warta Utama Majalah Komunikasi 381 Juli 2012