DKP

 

Doa Hari Rabu, 7 Juni 2017

Bagi Yesus, kebangkitan adalah soal hidup bersama dengan Allah di dalam keabadian. Orang bangkit berarti orang hidup bersama dengan Allah dan di sana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka hidup dalam kebersamaan dengan Allah.

Allah yang mulia dan berkuasa,

kemuliaan-Mu melebihi segala hal,

kuasa-Mu mengatasi segala perkara.

Kami bersyukur karena melalui Yesus, Sang Putra

kami dapat mengenal-Mu, Bapa.

Bukan sebagai satu sosok yang mempertontonkan kemuliaan-Mu

juga bukan sebagai satu sosok yang memamerkan kuasa-Mu.

Kau Bapa yang begitu lembut, teratur dalam bertindak,

mengikuti satu tatanan yang sudah Kau tetapkan.

Bapa, yang baik

kami ingin mampu mengikuti-Mu melalui karakter Yesus Kristus.

Bertindak dan bersikap mengikuti tatanan yang Kau berikan,

ada dalam jalan-jalan-Mu.

Di sana kami bisa menyelami apa yang menjadi kehendak Bapa.

Kami rindu mampu melakukan semua itu.

Seperti yang tercatat dalam Injil bahwa menjadi anak-anak-Mu, 

dan menjadi pengikut Kristus tidaklah cukup

hanya dengan menjalankan perintah-Mu

dan menjauhi larangan-Mu, namun harus melepaskan

semua keinginan dunia.

Secara figuratif, menjual benda duniawi dan mengikut-Mu, Yesus.

Dengan bantuan-Mu, kami bersedia untuk mengusahakannya.

Dalam nama Tuhan Yesus

kami telah berdoa dan mengucap syukur.

Amin.

By : Team Moderator DSM 

dengan penyesuaian


RH Mutiara Iman

Rabu Biasa dalam Pekan Kesembilan, 7 Juni 2017

(by: Rm. Mateus Mali, CsSR)


Mutiara Iman:

''Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hiudp seperti malaikat di sorga.'' [Mrk. 12: 25]

 

BACAAN PERTAMA (Tb. 3: 1-11a. 16-17a)

Tobit bersedih hati, mengeluh, dan menangis. Dengan keluh kesah ia berdoa begini, ''Engkau adil, ya Tuhan, dan adillah semua perbuatan-Mu. Segala tindakan-Mu penuh belas kasihan dan kebenaran. Engkaulah hakim atas duna semesta. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah kepadaku, pandanglah aku! Jangan aku Kauhukum sekedar segala dosa dan kekhilafanku atau setimpal dengan dosa nenek moyangku! Sebab kami telah berdosa di hadapanmu dan melanggar perintah-perintah-Mu. Maka kami Kaubiarkan dirampas, ditawan, dan dibunuh. Kami Kau jadikan sindiran dan tertawaan, orang ternista di tengah sekalian bangsa di mana kam Kauceraiberaikan. Memang tepatlah hukuman-Mu, jika aku Kauperlakukan sekedar segala dosaku. Karena kami tidak memenuhi perintah-perintah-Mu, dan tidak hidup baik di hadapan-Mu. Kini berbuatlah kepadaku sekehendak-Mu, sudailah mencabut nyawaku. Aku rela dilenyapkan dari muka bumi dan dikembalikan kepada tanah. Sebab mati lebih berguna bagiku daripada hidup. Aku telah mengalami nista dan fitnah, dan sangat sedih rasa hatiku. Ya Tuhan, biarlah aku lepas  dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi. Janganlah wajah-Mu Kaupalingkan dari padaku, ya Tuhan. Lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak susah dalam hidupku. Sebab kalau mati, tak perlu lagi aku mendengar segala nista ini!''

Pada hari yang sama terjadilah bahwa Sara, puteri Raguel, di kota Ekbatana di negeri Media dihina oleh seorang pelayan perempuan ayahnya. Adapun Sara itu sudah diperisterikan kepada tujuh pria. Tetapi mereka semua dibunuh oleh Asmodeus, setan jahat itu, sebelum mereka bersatu dengan Sara sebagai suami isteri. Kata pelayan itu kepada Sara, ''Engkau sendirilah yang membunuh para suamimu! Engkau sudah diperisterikan kepada tujuh orang, tetapi tidak ada seorangpun jua yang kaunikmati! Masakan kami kaucambuki karena mereka mati! Baiklah engkau menyusul mereka saja, supaya kami tidak usah melihat seorang putera atau puteri dari engkau!'' Maka pada hari itu juga Sara sangat sedih hati, lalu menangis tersedu-sedu.

Kemudian ia naik ke bilik kepunyaan ayahnya dengan maksud menggantung diri! Tetapi berpikirlah ia dalam hati, ''Kiranya ayahku nanti dinistakan karena hal itu dan oran gakan berkata kepadanya,'Bapa hanya punya satu puteri kesayangan. Celakalah bapa, ia telah menggantung diri!' Niscaya karena sedihnya, maka ayahku akan mati sebelum waktunya. Lebih baik aku tidak menggantung diri, melainkan berdoa kepada Tuhan, supaya aku mati saja sehingga tidak usah mendengar lagi nista selama hidupku''. Segera Sara menadahkan tangannya, lalu berdoa, katanya, ''Terpujilah Engkau, ya Allah penyayang! Aku mengarahkan mataku kepada-Mu. Semoga aku dilenyapkan saja dari muka bumi, sebab aku tidak kuat lagi menanggung nista''.

Pada saat itu juga kedua orang tersebut, yakni Tobit dan Sara, dikabulkan permohonannya di hadapan kemuliaan Allah. Allah mengutus malaikat Rafael untuk menyembuhkan kedua-duanya, yaitu dengan menghapus bintik-bintik putih dari mata Tobit sehingga ia dapat melihat cahaya Allah dengan matanya sendiri, dan dengan memberikan Sara, puteri Raguel, kepada Tobia, putera Tobit, sebagai isteri, dan dengan melepaskannya dari Asmodeus, setan jahat itu. Memang Tobia lebih berhak memperoleh Sara dari semua orang lain yang ingin memperisteri dia. Pada saat yang sama Tobit kembai dari pelataran masuk ke rumahnya, dan Sara, anak Raguel, turun dari bilik ayahnya.

 

MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 24 (25): 2–4a. 4b-5ab. 6-7bc. 8-9

Refr. Kepada-Mu, ya Tuhan, kuarahkan hatiku.

Mazmur:

+    Kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,

      janganlah mengecewakan daku,

      janganlah musuh bersukacita atas kemalanganku.

      Sebab yang berharap kepada-Mu, tidak akan kecewa,

      kecewalah hendaknya yang berbuat lalim.

+    Perkenalkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan,

      tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku.

      Bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar dan ajarilah aku,

      karena Engkaulah Allah penyelamatku.

+    Ya Tuhan, ingatlah akan rahmat dan kasih setia-Mu

      yang telah Kautunjukkan sejak sediakala.

      Dosa masa mudaku dan pelanggaranku jangan Kauingat,

      tetapi ingatlah akan daku menurut belas kasih-Mu.

+     Jujur dan baiklah Tuhan,

      Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

      Ia membimbing orang yang rendah hati menurut hukum-Nya,

      mengajarkan jalan-Nya kepada orang yang bersahaja.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 11 : 25a.26)

P      Alleluya...

U     Alleluya...

P     Akulah kebangkitan dan kehidupan;

        barangsiapa percaya kepada-Ku, tak akan mati.

U     Alleluya...

 

BACAAN INJIL (Mrk. 12: 18-27)

Pada suatu hari, datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: ''Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.'' Jawab Yesus kepada mereka: ''Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!''

Meditatio:

Orang Saduki adalah sekelompok ahli kitab yang tidak mempercayai akan adanya kebangkitan. Bagi mereka hidup berakhir dengan kematian karena mereka tidak mampu menerima kebangkitan itu secara rohani. Maka mereka mengajukan kasus kebangkitan secara material, yakni tentang siapa yang akan menjadi suami atas seorang perempuan yang mempunyai suami 7 orang.

Bagi Yesus, kebangkitan adalah soal hidup bersama dengan Allah di dalam keabadian. Orang bangkit berarti orang hidup bersama dengan Allah dan di sana orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka hidup dalam kebersamaan dengan Allah. Kebangkitan bukan soal material melainkan spiritual dan relasional, yakni hidup dalam relasi dengan Allah di dalam Kerajaan Surga. Bagi kita umat beriman, kita mempunyai jaminan keselamatan atas diri Yesus Kristus. Dia adalah buah sulung kebangkitan yang telah membuka pintu surga bagi kita. Dia telah bangkit dan karenanya membuktikan kepada kita bahwa Dia hidup dan bahwa ada kehidupan setelah kematian.

Contemplatio:

Bayangkanlah tentang kematian Anda. Anda mati dan kemudian dikuburkan. Bagaimana kalau tidak ada kebangkitan? Bukankah hidup kita akan sia-sia?

Oratio:

Ya Yesusku, terima kasih atas rahmat kebangkitan yang Engkau perjuangkan kepada kami umat manusia. Semoga Engkau menerimaku kelak bila saat ajal datang. Amin.

Missio:

Aku mau mendoakan arwah orang meninggal agar memperoleh keselamatan dari Tuhan.

ERH

KEMURAHAN ATAU KEBAIKAN?

 

''Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.''

Kata Yesus kepadanya, ''Pergilah, dan perbuatlah demikian!''

(Lukas 10:37)

 

Baca: Lukas 10:30-37

Jawab Yesus: ''Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?'' Jawab orang itu: ''Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.'' Kata Yesus kepadanya: ''Pergilah, dan perbuatlah demikian!''

Seorang motivator mengajak pendengarnya untuk berbuat baik di setiap aspek hidup dan di dalam setiap kesempatan. Kebaikan menurutnya, adalah sikap yang selalu memberi, mengikhlaskan sesuatu demi sesama dan dirinya sendiri. Namun, adakah perbedaan antara kebaikan dan kemurahan? Seseorang menyatakan perbedaan keduanya secara unik: kebaikan adalah teman pada waktu senang; sedangkan kemurahan hati adalah teman pada waktu susah. 

Dalam perikop kita kali ini, sebuah contoh kemurahan diperankan oleh orang Samaria, melebihi imam Lewi dan ahli Taurat (ay. 31-33). Dia berhenti dan merawat orang Yahudi yang menjadi korban perampokan tersebut dengan maksimal (ay. 34-35). Di akhir cerita, Yesus pun bertanya kepada pendengar-Nya, siapakah yang layak menyandang predikat sebagai sesama manusia. Jawaban spontan pun muncul, ''Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya'' (ay. 37a) dan diikuti oleh perintah Yesus, ''Pergilah, dan perbuatlah demikian!'' (ay. 37b). Menurut Yesus, kemurahan hati adalah lebih dari sekedar kebaikan yang harus kita lakukan. 

Salah satu alasan kuat mengapa kemurahan hati adalah karakter yang wajib dimiliki oleh orang Kristen, adalah untuk meneladani Allah yang sudah bermurah hati kepada kita. Hal itu sekaligus menjadi sebuah tanda akan kemurnian dan kesejatian ibadah kita (bdk. Yak. 1:27) serta kehadiran Kristus di dalam diri kita. Tanpa kemurahan hati, kita bukanlah milik Kristus. Sudahkah kemurahan hati menjadi buah yang tetap, yang kita hasilkan sebagai orang Kristen?


CARA HIDUP YANG PENUH KEMURAHAN

MENUNJUKKAN PEMAHAMAN YANG CUKUP

TENTANG ANUGERAH ALLAH YANG BERLIMPAH ATAS HIDUP KITA

Ditulis oleh Nanik Woelandari

Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Salib Kebangkitan