DKP

 

Bersama Uskup: Hidup dalam Karunia Roh Kudus

Kalau hidup dalam karunia Roh Kudus, kita akan tampil sebagai orang yang diurapi Roh Kudus; yang perkataan dan perbuatannya menampilkan kehadiran Yesus yang murah hati dan penuh belas kasih. Apabila karunia Roh Kudus tersebut tak dipelihara, Roh pun akan padam.  

Hidup dalam Karunia Roh Kudus

 Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC - Uskup Bandung

[Sumber: Majalah KOMUNIKASI No.440/Juni 2017]

Saat ini banyak bermunculan motivator muda yang bukan hanya tampil luar biasa, tetapi juga laku diminati banyak orang. Mereka tergerak menjadi motivator karena banyak orang yang mengalami hidup lelah, letih, dan lesu serta berbeban berat dan tak bersemangat, membutuhkan motivasi lebih. Kehadiran para motivator ini disambut oleh pribadi, organisasi, bahkan korporasi yang mengirim para karyawannya untuk mengikuti pelatihan dan pembinaan.

Orang beriman menyebut keadaan tanpa motivasi tersebut sebagai orang yang tak ada rohnya. Pengikut Kristus berkata: “Roh Kudusnya padam.” Sekarang ada banyak kebangunan rohani dan retret untuk membangkitkan kembali semangat mereka yang mengalami hidup tanpa roh. Tak sedikit dari mereka yang mengalami kebangunan rohani tampil dengan semangat berkobar-kobar bagai dibakar Roh Kudus; siap menjadi pelayan. Banyak dari mereka yang mengikuti retret pulang dengan penuh sukacita karena mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang mengantarnya pada pertobatan; siap untuk menjadi pewarta. Tak jarang pula kita mengalami atau menyaksikan situasi penuh semangat dan sukacita penuh harapan tersebut tak berlangsung lama. Hal ini terjadi karena orang tersentuh  jiwanya hingga penuh semangat, tetapi mungkin tak terjamah rohnya hingga semangatnya tak bertahan lama. Kebangunan rohani, rekoleksi, retret, dan sejenisnya sebaiknya diadakan bukan hanya untuk menyentuh jiwanya hingga orang tergerak emosinya, tetapi terutama menjamah rohnya hingga orang sungguh tergerak hatinya untuk bertobat mengikuti bimbingan Roh Kudus, Sang Motivator spiritual.

Yesus memelihara Roh Kudus dengan berdoa pada Bapa-Nya dan menghidupkan Roh Kudus dalam diri-Nya dengan melayani manusia. Yesus adalah pribadi yang diurapi Roh Kudus: ''Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan  kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.'' (Luk. 4:18-19). Yesus memberitakan tahun rahmat Tuhan tersebut hingga saat ditanya oleh murid-murid Yohanes: ''Apakah Engkau Mesias ataukah kami harus menanti yang lain?'', Yesus pun menjawab: ''Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik'' (Luk. 7:22).

Dalam rangkaian nasihatnya Paulus meminta jemaat di Tesalonika untuk tidak memadamkan Roh Kudus dalam hidup mereka: ''Jangan padamkan Roh. . .'' (1Tes. 5: 19). Nasihat ini ditempatkan dalam konteks ajaran untuk bersukacita dan selalu tetap berdoa seraya mengucap syukur. Orang memadamkan Roh Kudus kalau melakukan berbagai perbuatan daging, yaitu ''percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, perceraian, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya'' (Galatia 5:19-21). Sebaliknya, orang yang Roh Kudusnya tak padam akan melakukan perbuatan Roh yang buahnya adalah kasih, sukacita damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri (Gal 5:25). Seseorang yang hidup dalam Roh akan juga dipimpin oleh Roh (Gal 5:25) sehingga hidupnya tak gila hormat dan tak saling menentang atau mendengki (Gal 5:26). Untuk itulah, Paulus berdoa: ''Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita'' (1 Tes. 5:23).

Rupanya ada orang yang memadamkan Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada saat pembaptisan. Roh Kudus yang diterima dalam pembaptisan sesungguhnya selalu mendorong roh seseorang untuk bertobat; mengikuti bisikan suara hati dan desakan kehendak ilahi sehingga ia bisa mengikuti Yesus dengan sepenuh hati dan tampil sebagai orang yang diurapi oleh Roh Kudus. Orang yang dihidupi Roh Kudus akan memelihara hidupnya sedemikian rupa sehingga selalu melaksanakan kehendak Allah.

Pada saat menerima sakramen penguatan, orang dianugerahi tujuh karunia Roh Kudus. Seraya membuat tanda salib pada dahi penerima sakramen penguatan, Uskup berkata: ''Terimalah tanda karunia Roh Kudus.'' Sebelumnya Uskup berdoa memohonkan tujuh karunia Roh Kudus tersebut sambil merentangkan tangannya yang diarahkan kepada para calon penerima sakramen penguatan. Ketujuh karunia Roh Kudus itu adalah roh kebijaksanaan, pengertian, penasihat, kekuatan, pengetahuan, ibadat, dan roh takwa pada Tuhan. Dengan tujuh karunia Roh Kudus tersebut, seseorang sampai pada kepenuhan sakramen inisiasi. Ia menjadi dan hidup sebagai seorang Katolik dewasa yang siap diutus. Dengan karunia Roh Kudus itu, ia akan hidup mengikuti kebijaksanaan ilahi serta mampu memahami kehendak Allah dan memaknai peristiwa hidup dalam kacamata ilahi. Ia akan berani membela kebenaran dan mencari kebaikan karena mengikuti bisikan Roh Kudus sebagai penasihat ilahi sekalipun harus menanggung kesulitan bagaikan memanggul salib. Ia akan mampu memahami penyelenggaraan ilahi dan selalu berusaha mencari Tuhan melalui doa dan ibadat. Ia takut berbuat dosa karena tak mau jauh dari kasih Allah.

Kalau hidup dalam karunia Roh Kudus, kita akan tampil sebagai orang yang diurapi Roh Kudus; yang perkataan dan perbuatannya menampilkan kehadiran Yesus yang murah hati dan penuh belas kasih. Apabila karunia Roh Kudus tersebut tak dipelihara, Roh pun akan padam. Roh Allah kan tetap hidup kalau kita mendekatkan diri pada Tuhan lewat relasi mistik (doa) dan kalau kita melayani umat dan masyarakat melalui tindakan profetik dan apostolik (kesaksian dan pelayanan) sesuai dengan karunia Roh Kudus yang dianugerahkan pada kita.

''Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh'' (1Kor 12:4). Ada karunia berkata-kata dengan hikmat dan pengetahuan, karunia menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, dan lain-lain. ''tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.'' (1Kor 12:11) Marilah kita mohon agar Roh Kudus sebagai Sang Motivator menggerakkan roh kita hingga dengan penuh semangat (antusias) kita hidup dalam Tuhan (en theos) sesuai dengan karunia Roh Kudus. ***


Ut diligatis invicem

+Antonius Subianto B, OSC



Galeri Foto

Majalah Komunikasi No.440 Juni 2017