DKP

 

Doa Hari Rabu, 9 Agustus 2017

Iman adalah penyerahan diri yang total kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah tidak membiarkan anak-anak-Nya, umat pilihan-Nya, berada dalam kesulitan. 

Allah Bapa kami,

terima kasih karena Engkau panjang sabar

dalam menghadapi kami semua yang menjadi anak-anak-Mu.

Ketika kami belajar untuk mengenal-Mu,

belajar untuk mengetahui apa yang jadi kehendak-Mu,

belajar terus sepanjang perjalanan hidup

untuk menjadi sempurna seperti Bapa.

Kerap kali kami merasa sudah benar dalam menilai keadaan kami.

Dengan tidak melanggar norma standar

bahwa kami tidak membunuh, kami juga tidak berzinah,

dan juga tidak mencuri.

Kami bangga karena tidak berdusta.

Kami pun menghormati orang tua kami.

Hari ini kami mendapati bahwa orang dunia pun

banyak yang sudah berlaku demikian.

Bahkan mungkin lebih baik melakukannya.

Ajaran Tuhan Yesus menyadarkan kami

bahwa kehidupan keberagamaan kami harus berbeda dengan dunia.

Kami haruslah sempurna

agar ketika kami memanggil Allah Bapa ada kebanggaan Bapa

melihat kami sebagai anak-anak-Nya.

Allah Bapa yang kami sembah

Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub,

yang mengutus Yesus menjadi Penebus

untuk mengubah cara kami memandang-Mu

bukan lagi sebagai tempat untuk meminta

pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan juga tempat untuk merajuk

agar memudahkan jalan hidup kami, tetapi sebagai sosok teladan

yang berdialog dengan kami.

Berkatilah apa yang jadi rencana kami pada hari ini, 

berkatilah orang-orang yang akan kami temui,

terutama mereka yang mungkin sedang sakit

atau sedang berduka.

Semoga kehadiran kami sungguh membawa Engkau sendiri

yang begitu peduli pada kami, anak-anak-Mu.

Hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus

kami telah berdoa dan mengucap syukur.

Amin.

[Oleh: Team Moderator Doa-Satu-Menit ]

dengan penyesuaian


RH Mutiara Iman

Rabu, 9 Agustus 2017 dalam pekan ke-18

(by: Rm. Ignasius Refo, Pr)


Mutiara Iman:

''Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.'' [Mat. 15: 27]

 

BACAAN PERTAMA (Bil. 13: 1-2. 25-14: 1. 26-29. 34-35)

Tuhan berfirman kepada Musa, ''Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka.'' Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. Mereka menceritakan kepadanya, ''Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.'' Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya, ''Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!'' Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata, ''Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.'' Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: ''Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.'' Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: ''Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.''

 

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 105 (106) : 6-7a. 13-14. 21-22. 23; R. 4a

Refr.   Ingatlah akan daku, ya Tuhan,

          demi kemurahan-Mu yang berlimpah-limpah.

Mazmur:

+        Kami telah berdosa seperti leluhur kami,

          kami bersalah dan berbuat jahat.

          Sesudah keluar dari Mesir,

          leluhur kami lupa akan karya-Mu yang agung.

+        Mereka segera lupa akan karya Tuhan,

          bahkan tidak peduli akan nasihat-Nya.

          Mereka bersungut-sungut di gurun pasir

          dan mencobai Allah di padang belantara.

+        Mereka lupa akan Allah, penyelamat mereka,

          yang telah melakukan perbuatan agung di Mesir,

          karya yang mengagumkan di tanah Kham,

          perbuatan dahsyat di tepi Laut Merah.

+        Maka Allah memutuskan untuk memusnakan mereka,

          seandainya tidak dicegah Musa, hamba-Nya yang terpilih.

          Sebab Musa mengantara di hadapan Tuhan,

          jangan sampai amarah-Nya membinasakan mereka.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Luk. 7: 16)

P         Alleluya...

U        Alleluya...

P        Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita,

          dan Allah mengunjungi  umat-Nya. Alleluya …

U       Alleluya...

BACAAN INJIL (Mat. 15: 21-28)

Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: ''Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.'' Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: ''Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.'' Jawab Yesus: ''Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.'' Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ''Tuhan, tolonglah aku.'' Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: ''Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.'' Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: ''Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.'' Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

 

MEDITATIO :

Dalam bacaan yang pertama, Musa menyuruh beberapa orang untuk mengintai Tanah Kanaan, yang berlimpah susu dan madu, yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Namun ada penghianat-penghianat yang menyampaikan kabar burung, yang membuat orang Israel menjadi takut dan meragukan rencana Allah bagi mereka. Akhirnya, rencana memasuki tanah Kanaan tertunda sampai 40 tahun lamanya. Iman dikalahkan oleh kabar yang tidak benar.

Dalam bacaan Injil, kita justru disuguhkan cerita sebaliknya: iman yang kokoh mengalahkan keraguan. Wanita Kanaan tanpa ragu meminta Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Wanita ini tahu universalitas penyelamatan Yesus. Meskipun Yesus menantangnya dengan kata-kata yang keras dan terkesan menolak, wanita ini tidak mundur. ''Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.'' Totalitas iman wanita ini berbuah nyata. Ia tak perlu menunggu lama, saat itu juga terjadi. Injil mencatat, ''Seketika itu juga anaknya sembuh.''

Iman adalah penyerahan diri yang total kepada Allah. Kita percaya bahwa Allah tidak membiarkan anak-anak-Nya, umat pilihan-Nya, berada dalam kesulitan. Wanita Kanaan itu telah memperlihatkan kepada kita imannya yang besar. Pertanyaannya, apakah kita memiliki iman sedemikian?

CONTEMPLATIO:

Masuklah dalam keheningan. Bayangkanlah segala kesulitan-kesulitan yang Anda hadapi. Bukankah Anda selalu bisa mengatasi kesulitan itu? Apakah karena Anda hebat? Tuhan selalu bermurah hati kepadamu. Ia tidak pernah membiarkanmu berjalan sendiri. Apakah Anda percaya akan hal ini?

ORATIO:

Allah yang mahakasih, terkadang diriku menjadi tanah yang gersang di mana benih iman yang Kautaburkan merana dan mati. Bantulah aku ya Tuhan, agar dapat menjadi tanah yang subur bagi bertumbuhnya benih iman yang Kautaburkan. Amin.

MISSIO:

Hari ini aku akan panjatkan doa, agar Tuhan menumbuhkan benih imanku yang kecil, agar aku kian mengandalkan Tuhan dalam hidupku.

ERH

HIKMAT DALAM KEPUTUSAN

''Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara

untuk menghakimi umat-Mu

dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.''

(1 Raja-raja 3:9)


Baca: 1 Raja-raja 3:4-10

Saat libur, si sulung ingin ke pantai untuk berenang. Namun, si bungsu mengusulkan untuk mengunjungi nenek di desa. Setelah menimbang sejenak, ayah memutuskan memilih usul si bungsu. Untuk si sulung, ayah berjanji menemaninya berenang di sungai jernih dekat rumah nenek. Seluruh keluarga menyambut gembira keputusan ayah. 

Pada waktu raja Salomo pergi mempersembahkan kurban bakaran di Gibeon, Tuhan menampakkan diri dalam suatu mimpi dan berfirman, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (ay. 4-5). Bukannya meminta umur panjang, kekayaan, atau kekuasaan, Salomo meminta hikmat untuk memimpin umat Tuhan yang begitu besar (ay. 7-9). Salomo menyadari bahwa kokohnya suatu kerajaan bergantung pada hikmat rajanya. Tuhan berkenan atas permintaan Salomo dan memberikan kepadanya hikmat yang luar biasa. Terbukti, pada waktu terjadi perselisihan antara dua orang perempuan yang memperebutkan seorang bayi, Salomo dapat menyelesaikannya dengan bijaksana (1Raj. 3:16-28). 

Beberapa orang takut atau ragu-ragu ketika harus mengambil keputusan. Keputusan yang salah tentu merugikan, tetapi tidak berani mengambil keputusan juga tidak dapat dibenarkan. Semakin kita dewasa, kita harus belajar mengambil keputusan. Seperti Salomo, kita perlu berdoa memohon hikmat agar Tuhan memampukan kita untuk mengambil keputusan dengan bijaksana. Kita juga membiasakan diri mengasah hati dan pikiran dengan mendalami firman Tuhan agar hidup kita diperkaya hikmat Tuhan.


KITA AKAN MENJADI SEMAKIN PERCAYA DIRI

DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN 

KETIKA KITA TAHU BAHWA KITA BERJALAN

DALAM TUNTUNAN TUHAN

 

Ditulis oleh Linawati Santoso

Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Hati Yesus Maha Kudus