DKP

 

Doa Hari Kamis, 10 Agustus 2017

Kesaksian hidup Laurensius dan banyak martir lainnya dalam Gereja kita membenarkan pesan Yesus dalam Injil hari ini. ''Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jia ia mati ia akan menghasilkan banyak buah.''

Allah Bapa kami yang kudus dan yang kami agungkan.

Karena kemuliaan-Mu, ya Bapa

kami memandang-Mu dengan penuh hormat,

mengikuti yang Yesus ajarkan.

Di dalam kasih-Mu ada ketegasan

yang mengharuskan kami seperti-Mu, Bapa

sempurna ketika hidup di atas bumi ini

layaknya Bapa yang di sorga adalah sempurna,

karena kami adalah anak-anak-Mu, ya Bapa.

Ampunilah kami, karena masih sering berdalih

bahwa karena masih hidup di muka bumi ini,

maka tidak sempurna adalah satu kewajaran,

berbuat dosa adalah satu kewajaran,

meleset dari kehendak-Mu adalah kewajaran,

bersikap masa bodoh terhadap sesama pun suatu kewajaran.

Ampunilah kami, karena pengaruh gaya hidup dunia

masih begitu kuat mengikat kami.

Ampunilah kami

karena masih seringkali memilih untuk lebih mengikuti dunia.

Gaya hidup yang menempatkan-Mu sebagai yang nomor satu, kami ucapkan,

namun entah pada urutan ke berapa jika diukur dari tingkah laku kami.

Bapa yang baik,

kesabaran-Mu sering kami jadikan alasan

untuk tidak memperbaiki diri saat ini,

karena terlalu yakin bahwa masih ada hari esok dan lusa.

Begitu gampang kami menghindar dari ajakan Yesus,

dan menggantikannya dengan ajakan dunia.

Walaupun begitu,

penyertaan dan anugerah-Mu tak pernah berkurang,

kasih-Mu senantiasa berlimpah dalam hidup kami.

Terima kasih, Bapa...

Kini, bersama St. Laurensius, Diakon dan martir-Mu

yang kami syukuri keberadaannya pada hari ini,

kami ingin memperbaharui janji kami

untuk tetap setia menjadi pelayan-Mu

lewat melayani sesama yang ada di sekitar kami.

Bantu kami agar dapat menghidupi janji ini ya Bapa,

supaya kelak, ketika Engkau datang untuk menjemput kami,

Kaudapati kami layak

karena kami berlaku selaku hamba-Mu yang setia.

Terima kasih, Bapa... Hanya di dalam nama-Mu

kami telah berdoa dan mengucap syukur.

Amin.

[Oleh: Team Moderator Doa Satu Menit]

dengan penyesuaian


RH Mutiara Iman

Kamis, 10 Agustus 2017 dalam pekan ke-18

Pa. St. Laurensius, DiakMrt

(by: Rm. Ign. Refo, Pr)

Mutiara Iman:

''... jikalau biji gantum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati ia akan menghasilkan banyak buah.'' [Mrk 9:7b]

 

Bacaan Kamis dalam Pekan ke-18

BACAAN PERTAMA (Bil. 20: 1-13)

Dalam perjalanannya, bangsa Israel sampai di padang gurun Zin, lalu mereka menetap di Kadesy. Di sana Miryam meninggal dunia dan dikuburkan. Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: ''Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?'' Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa: ''Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.'' Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: ''Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?'' Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: ''Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.'' Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.

 

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 94 (95) : 1-2. 6-9; R. 8

Refr.    Dengarkanlah suara Tuhan dan jangan bertegar hati.

 Mazmur:

+       Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan,

         bersorak-sorai bagi penyelamat kita.

         Menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur,

         menghormati-Nya dengan pujian.

+       Mari bersujud dan menyembah,

         berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita.

         Dialah Allah kita, kita umat-Nya,

         Dialah gembala kita, kita kawanan-Nya.

+       Hari ini dengarkanlah suara-Nya:

         ''Jangan bertegar hati seperti di Meriba,

         seperti di Masa, di padang gurun;

         ketika leluhurmu mencobai Aku,

         walau menyaksikan karya-Ku yang agung''.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Mat. 16 : 18)

P        Alleluya...

U       Alleluya...

P       Engkaulah Petrus,

         dan di atas wadas ini akan Kudirikan Gereja-Ku.

         Dan kerajaan maut tidak akan mengalahkannya.

U      Alleluya...

 

BACAAN INJIL (Mat. 16: 13-23)

Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ''Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?'' Jawab mereka: ''Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.'' Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ''Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?'' Maka jawab Simon Petrus: ''Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!'' Kata Yesus kepadanya: ''Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.'' Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ''Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.'' Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ''Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.''

 

St. Laurensius (Diakon dan Martir, + 258, Pa)

Menjadi diakon pada masa Gereja Purba berarti berkarya penuh merawat orang sakit, mengajar, dan membimbing para katekumen. Semua itu dikerjakan oleh Laurensius dengan penuh pengabdian. Ia giat dan cakap. Untuk melindungi harta milik Gereja terhadap nafsu merampas para penganiaya, dibagi-bagikannya semua kepada orang miskin. Maka ketika ditangkap dan diperintahkan menyerahkan harta kekayaan, dimintanya orang-orang miskin menghadap penguasa dan ia berkata, ''Inilah kekayaan Gereja''. Laurensius sebagai diakon termasuk yang paling tenar, karena kepeduliaannya kepada kaum papa miskin. Ia gugur dibakar sebagai martir.

BACAAN PERTAMA (2Kor. 9: 6-10)

Saudara-saudara, orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Seperti ada tertulis, ''Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya''. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.


MAZMUR TANGGAPAN – Mzm. 112: 1-2. 5-6. 7-8. 9 R. 5a

Refr.  Orang baik menaruh belas kasih dan memberi pinjaman.

Mazmur

+     Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan,

       yang sangat suka akan segala perintah-Nya.

       Anak cucunya akan perkasa di bumi;

       keturunan orang benar akan diberkati.

+     Orang baik menaruh belas kasih dan memberi pinjaman,

       ia melakukan segala urusan dengan semestinya.

       Orang jujur tidak pernah goyah;

       ia akan dikenang selama-lamanya.

+     Ia tidak takut kepada kabar buruk,

       hatinya tabah, penuh kepercayaan kepada Tuhan.

       Hatinya teguh, ia tidak takut,

       sehingga ia mengalahkan para lawannya.

+     Ia murah hati, orang miskin diberinya derma;

       kebajikannya tetap untuk selama-lamanya,

       tanduknya meninggi dalam kemuliaan.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 8 : 12b)

P      Alleluya.            

U     Alleluya.

P     Akulah cahaya dunia.

       barangsiapa ikut Aku, tidak berjalan dalam kegelapan,

       tetapi memiliki cahaya hidup.

U    Alleluya.

 

BACAAN INJIL (Yoh. 12: 24-26)

Menjelang akhir hidup-Nya, berkatalah Yesus kepada para murid, ''Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa''.

MEDITATIO:

Hari ini kita memperingati st. Laurensius, seorang diakon dan martir. Laurensius adalah pelayan setia Paus Sixtus II (abad III). Tugasnya adalah mengelola harta benda Gereja untuk dibagikan kepada kaum fakir miskin. Ketika Paus Sixtus dipenjara oleh penguasa Roma, Laurensius juga menemaninya. Namun, ketika penguasa Roma ingin merebut harta kekayaan Gereja yang dikelolanya, Laurensius segera membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Penguasa Roma pun marah; Laurensius dibakar hidup-hidup dan wafat sebagai martir. Kematian Laurensius menjadi benih subur bagi pertumbuhan iman umat pada waktu itu.

Kesaksian hidup Laurensius dan banyak martir lainnya dalam Gereja kita membenarkan pesan Yesus dalam Injil hari ini. ''Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jia ia mati ia akan menghasilkan banyak buah.'' Agar dapat menghasilkan buah melimpah dibutuhkan pengorbanan. Tertulianus menulis, ''Darah para martir adalah benih bagi pertumbuhan Gereja''. Artinya, mati karena iman bukanlah kesia-siaan belaka, tetapi sebaliknya menjadi benih subur bagi tumbuh-kembangnya Gereja.

Yesus mengingatkan kita bahwa ada biji gandum yang tetap sebiji dan tidak menghasilkan buah dan ada biji gandum yang menghasilkan banyak buah. Namun, untuk bisa berbuah berlimpah dibutuhkan pengorbanan dan bahkan mati. Siapakah yang siap menjadi biji gandum, yang jatuh ke tanah dan hancur, tetapi bertumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah?

CONTEMPLATIO:

Dalam hening, bayangkan mereka yang dipersulit dalam pekerjaan, ditolak ketika mengurus izin pendirian gereja dan mendapat kekerasan fisik karena iman akan Kristus. Kini sadarilah. Tuhan tidak menjanjikan ilusi kenyamanan. Tapi Ia akan menyertaimu melewati kesulitanmu.

ORATIO:

Tuhan, kuatkanlah aku untuk tidak takut berkorban bagi siapapun yang membutuhkanku. Amin.

MISSIO:

Hari ini aku belajar sabar ketika difitnah dan ditolak karena aku adalah seorang pengikut Kristus.

ERH

HUTAN BAKAU KEHIDUPAN

 

''Jadi, akhirnya, Saudara-saudara,

semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil,

semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,

semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,

pikirkanlah semuanya itu.''

(Filipi 4:8)

Baca: Kejadian 50:15-21

Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: ''Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.'' Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: ''Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.'' Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: ''Kami datang untuk menjadi budakmu.'' Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: ''Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.  Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.'' Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Menurut data FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) 2005, Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia. Hutan yang tumbuh di pertemuan laut dan daratan ini sangat krusial. Akar bakau mampu menahan gempuran air laut supaya tidak merusak daratan. Tanpa perlindungan bakau, air laut akan mengikis pantai, menggerus bebatuan, dan mencemari air tanah. Selain itu, badai dan tsunami yang terjadi di laut lepas juga dapat menghajar daratan tanpa ampun.

Yusuf mengalami banyak gempuran dalam hidupnya. Ia dilemparkan ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, bahkan dijebloskan ke penjara. Nasib buruk yang bertubi-tubi ini seharusnya menimbulkan amarah dalam hatinya. Orang-orang mungkin akan memaklumi andaikata ada kepahitan dalam kata-kata dan perbuatannya. Namun, ternyata Yusuf sama sekali tidak menyimpan dendam. Justru, kata-kata penghiburan dan ucapan syukur yang terucap dari bibirnya (ay. 19-21). 

Kita kadang-kadang juga menerima cercaan atau perbuatan buruk dari orang lain. Kita ibarat pantai yang digempur gelombang laut. Tanah hati yang baik ini bisa terkikis, relung jiwa yang murni bisa tergerus, dan nilai-nilai moral bisa tersapu bersih. Kita membutuhkan hutan bakau kehidupan, yaitu pengenalan akan Allah melalui firman-Nya. Maka, kita tidak akan meneruskan keburukan yang sama kepada ''daratan,'' yaitu lingkungan di sekitar kita. Sebaliknya, kita menyebarkan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, dan patut dipuji.

PENGENALAN KITA AKAN ALLAH

MEMAMPUKAN KITA MENGHADANG YANG BURUK

DAN MENERUSKAN YANG BAIK

Ditulis oleh Angga Febriani

Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Santo Laurensius