DKP

 

Doa Hari Rabu, 4 Oktober 2017

St. Fransiskus dari Asisi telah memberikan contoh radikal. Ia rela meninggalkan segalanya: ayah, ibu, harta benda dan tidak menoleh kembali demi mengikuti Yesus yang memanggilnya untuk membarui Gereja.

Allah Bapa kami yang di Sorga

walau Engkau adalah Bapa yang Roh adanya namun Engkau bersedia kami kenal

melalui Yesus Kristus Sang Putra yang turun ke dunia menjadi manusia

dan membuat kami menjadi anak-anak-Mu.

Terima kasih, Bapa...

Kami belajar meneladani-Mu untuk sikap-Mu yang lemah lembut dan rendah hati

yang pada awalnya kami anggap mudah.

Kam mengira bahwa untuk menjadi pengikut-Mu tidaklah sulit,

layaknya menyanyikan dua-tiga bait lagu

bersuara di bibir dan semuanya selesai.

Gambaran seperti ini layaknya anggapan dunia

yang begitu ketakutan ketika banyak yang mengikuti-Mu, ya Tuhan Yesus.

Di pekan pertama bulan kesepuluh ini kami sadari penuh,

bahwa untuk menjadi pengikut-Mu

sungguhlah penuh perjuangan dan kesungguhan hati.

Untuk berubah dan menjadi sempurna secara sadar dan sengaja,

berani meninggalkan cara hidup lama sebagai rangkaian proses lahir baru,

sungguh memerlukan ketekunan dan kemauan yang keras.

Lahir baru, bukanlah satu sensasi atau luapan emosi dalam waktu singkat,

dipompa dan menggelembung pesat.

Kami pernah mendambakan hal ini, mendambakan dan mengagungkan

menjadikan kami sombong rohani dan merasa lebih suci dari saudara kami.

Sungguh tidak rendah hati apalagi disebut lemah lembut

Ampuni kami Yesus karena pernah kami begitu sombong.

Menentukan sudah lahir baru sebagai syarat untuk tenaga kerja

atau sekedar pertemanan sekalipun.

Kini kami mengerti lahir baru hanya dimengerti

oleh yang bersangkutan dan Kau, Yesus.

Perkenankan kami memperbaharui diri menjadi lebih baik lagi

dari hari ke hari.

Sertai dan berkati seluruh niat ini, ya Yesus,

agar sungguh dapat kami jalani dengan sepenuh hati.

Kami juga mohon berkat-Mu bagi para saudara kami yang sedang sakit,

mereka yang sedang mengusahakan agar tubuhnya dapat sehat kembali.

Tetaplah menyayangi mereka, ya Yesus, agar dalam segala penderitaannya,

mereka Kaumampukan untuk tetap bersandar pada-Mu

satu-satunya sumber keselamatan dalam hidup kami.

Engkau kami puji, kini dan sepanjang segala masa.

Hanya di dalam nama-Mu, kami telah berdoa dan mengucap syukur.

Amin

[Oleh: Team Moderator Doa-Satu-Menit]

dengan penyesuaian


RH Mutiara Iman

Rabu dalam pekan ke-26 [4 Oktober 2017]

Pw. St. Fransiskus dr Asissi

(by: Rm. Bernardus Boli Ujan, SVD)

Mutiara Iman:

''Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah''. [Luk. 9: 62]

 

BACAAN PERTAMA (Neh. 2: 1-8)

Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, bertanyalah ia kepadaku, ''Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati''. Lalu aku menjadi sangat takut. Jawabku kepada raja, ''Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?'' Lalu kata raja kepadaku, ''Jadi, apa yang kauinginkan?'' Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, kemudian jawabku kepada raja, ''Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali''. Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya, ''Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?'' Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. Berkatalah aku kepada raja, ''Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami''. Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.

 

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 137: 1 – 2. 3. 4 – 5; R.: lh. 6b

Refr.  Aku rindu akan kota Allah, mahkota sukacitaku.

Mazmur:

+     Di tepi Sungai Babel kami duduk menangis,

       apabila teringat akan Sion.

       Pada pohon gandarusa di tanah itu

       kami gantungkan kecapi kami.

+     Di sana orang yang menawan kami

       menyuruh kami menyanyikan lagu.

       Orang yang memperbudak kami

       meminta lagu gembira,

       ''Nyanyikanlah bagi kami lagu Sion!''

+     Bagaimana mungkin kami menyanyikan lagu Tuhan di tanah asing?

       Sekiranya aku sampai melupakan dikau, Yerusalem,

       biarlah tangan kananku dipotong.

+     Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku,

       sekiranya aku tidak ingat akan dikau;

       sekiranya aku tidak menjunjung Yerusalem

       menjadi mahkota sukacitaku.

 

BAIT PENGANTAR INJIL  (Flp. 3: 8-9)

P       Alleluya...

U      Alleluya...

P      Segala sesuatu kuanggap sebagai sampah

        agar aku memperoleh Kristus dan bersatu dengan-Nya.

U      Alleluya...

 

BACAAN INJIL (Luk. 9: 57-62)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus, ''Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi''. Yesus berkata kepadanya, ''Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya''. Lalu Ia berkata kepada seorang lain, ''Ikutlah Aku!'' Tetapi orang itu berkata, ''Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku''. Tetapi Yesus berkata kepadanya, ''Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana''. Dan seorang lain lagi berkata, ''Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku''. Tetapi Yesus berkata, ''Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah''.

 

St. Fransiskus dari Asisi (1182-1226, Pw)

Menurut catatan St. Bonaventura pada Fransiskus Asisi tampak kebaikan Tuhan, Penyelamat kita, di dunia lagi. Kesucian Fransiskus memang tidak menonjol. Setelah meninggalkan kemewahannya pada usia 25 tahun ia mendengar panggilan Yesus untuk mengikuti Dia di jalan kemiskinan. Sikap setengah-setengah tidak ada padanya. Teman-teman yang mengikuti dia tidak diberinya peraturan-peraturan lain selain ajakan Injil untuk mengikuti Tuhan dalam kemiskian dan salib-Nya. Karena cintanya kepada kemiskinan tumbuh juga cinta kasihnya kepada kaum papa dan penderita. Ia sendiri mengikuti Kristus seutuhnya dalam cinta kasih, pewartaan, dan penderitaan-Nya. Pada saat menjelang akhir hidupnya ia dalam kesunyian di Gunung Alverna menerima stigmata (tanda luka-luka Kristus) di tubuhnya, yang menandai betapa erat mesra hubungannya dengan Kristus yang tersalib. Saat terakhir deritanya ia hanya menanti dijemput 'saudara maut' pada tahun 1226.

 

BACAAN PERTAMA (Gal. 6: 14-18)

Saudara-saudara, sekali-kali aku tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.  Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.


MAZMUR TANGGAPAN – Mzm. 16 : 1-2a. 5. 7-8. 11; R. 5a

Refr.  Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisanku.

Mazmur

+     Jagalah aku ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

       Aku berkata kepada Tuhan, Engkaulah Tuhanku,

       Engkaulah bagian warisan dan pialaku,

       Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian

       yang diundikan kepadaku.

+     Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku,

       pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku.

       Aku senantiasa memandang kepada Tuhan;

       karena Ia berdiri di sisi kananku, aku tidak goyah.

+     Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan;

       di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah,

       di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (lh. Mat. 11 : 25)

P       Alleluya.            

U      Alleluya.

P      Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,

        sebab misteri kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil

U      Alleluya.

BACAAN INJIL (Mat. 11: 25-30)

Sekali peristiwa berkatalah Yesus, ''Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan''.


MEDITATIO :

Hendy adalah anak laki-laki tunggal yang mempunyai hanya seorang saudari. Ketika Hendy menamatkan SMP, ia berani melamar masuk seminari. Ayahnya setuju tapi mamanya amat tidak setuju karena merasa sangat penting peran anak laki-laki tunggal untuk meneruskan keturunan keluarga. Namun Hendy bersikeras untuk menjadi calon Imam karena itulah keinginan hatinya sejak kecil ketika sering mendapat kunjungan dari para suster. Meskipun pada setiap akhir tahun sekolah mamanya tetap meminta agar Hendy berhenti menjadi calon Imam, ia tetap mau kembali ke seminari. Dengan mantap Hendy meneruskan pendidikan di seminari tinggi karena ia tetap merasa bahwa Yesus memanggil dirinya untuk menjadi imam. Ketika sang ayah mendahului mereka ke alam baka saat Hendy sedang menyiapkan diri untuk tahbisan diakon, mamanya berpikir, ''Inilah kesempatan yang tepat untuk meyakinkan Hendy agar membatalkan niatnya menjadi diakon.'' Hendy sungguh berada dalam dilema. Dengan tulus dan rendah hati ia membawa soalnya kepada Yesus dalam doa dan permenungan mendalam. Tak lupa pula ia meminta Bunda Maria untuk menolongnya mengambli keputusan yang benar dan menyerahkan ibunya kepada perlindungan Santa Perawan Maria. Meskipun rasanya berat, Hendy akhirnya memutuskan untuk ditahbiskan menjadi diakon dan Imam. Itulah perjuangannya untuk tidak menoleh ke belakang ketika sedang dalam perjalanan mengikuti Yesus yang memanggilnya menjadi Imam. St. Fransiskus dari Asisi telah memberikan contoh radikal. Ia rela meninggalkan segalanya: ayah, ibu, harta benda dan tidak menoleh kembali demi mengikuti Yesus yang memanggilnya untuk membarui Gereja.

CONTEMPLATIO:

Dalam hening, sadari suara panggilan Tuhan untukmu. Ia memanggilmu melalui tugasmu sehari-hari. Ikutilah Dia tanpa ada keraguan.

ORATIO:

Tuhan Yesus, jangan biarkan aku untuk menoleh ke belakang dalam menjawab panggilan suci-Mu. Amin.

MISSIO:

Hari ini aku mau setia melaksankan tugas yang telah dipercayakan kepadaku, meskipun tugas itu kecil dan sederhana.

ERH

KETIKA SI SULUNG LAHIR 

“Dan kamu, Bapak-bapak,

janganlah bangkitkan kemarahan di dalam hati anak-anakmu,

tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

(Efesus 6:4)


Baca: Efesus 6:1-9

Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.

''Aku sekarang punya anak'', gumam Pak SWS sambil menatap anak sulungnya yang baru lahir. ''Apa yang harus aku lakukan untuk anakku?'' lanjutnya lirih dengan wajah serius. Tercekat hati saya mendengar pertanyaan itu. Entah kepada siapa pertanyaan itu ditujukan. Namun jelas, itu adalah pertanyaan yang sangat serius. Pertanyaan sangat serius yang juga ''menghantui'' saya ketika anak sulung saya lahir. Dan, siapa tahu, itu pula pertanyaan banyak orangtua baru yang lain. 

Jelas, itu bukan pertanyaan yang cukup dijawab dengan ''Didiklah anakmu di dalam Tuhan''. Itu justru pertanyaan ''Jika aku ingin mendidik anakku di dalam Tuhan, langkah konkret apa yang tepatnya harus aku ambil?'' Efesus 6:4 mengisyaratkan bahwa meski untuk tujuan mulia ''mendidik anak di dalam Tuhan'', ada cara yang benar, dan ada juga cara yang salah. Efesus 6:4 jelas mengisyaratkan bahwa Tuhan menghendaki agar para orangtua mendidik anak-anak mereka dengan cara yang benar. Dan, tepat pada titik itulah Pak SWS bertanya: Manakah cara yang benar itu? 

Maka, pertanyaan lain pun berdesakan muncul: Adakah semua orangtua, juga kita, bertanya seperti itu? Jika tidak, bukan masalah seriuskah itu? Pihak manakah yang secara prinsip berkewajiban dan karenanya berwenang menunjukkan kepada para orangtua tentang apa yang secara konkret harus mereka lakukan untuk mendidik anak-anak di dalam Tuhan? Sudahkah upaya-upaya memadai dilakukan untuk menolong orangtua seperti Pak SWS? Atau, akankah pertanyaan Pak SWS berlalu bersama angin?

MENDIDIK ANAK DI DALAM TUHAN

ADALAH KEWAJIBAN ORANGTUA. 

TETAPI, SIAPAKAH YANG MEMPERSIAPKAN MEREKA

UNTUK MELAKUKANNYA?

Ditulis oleh Eko Elliarso

Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Santo Fransiskus Asisi