DKP

 

Doa Hari Senin, 9 Oktober 2017

Ajaran utama kita adalah cinta kasih. Namun mengetahui perintah cinta kasih belumlah cukup. Kasih kita harus keluar, karena kasih kepada diri sendiri adalah egois.

Allah Bapa kami yang penuh kasih

awal pekan kerja kedua di bulan ini

kami masuki hari ini, ya Bapa, dengan yakin dan percaya

akan penyertaan-Mu yang selalu ada bagi kami.

Tak kuatir kami akan semua yang akan dihadapi selama satu pekan ini

meski banyak yang kami lihat bukan hal yang mudah dan serba lancar

namun pasti akan Kau sediakan jalan yang harus kami pilih

sebagai bagian pembelajaran kami mengikuti apa yang jadi kehendak-Mu

di dalam hidup kami ini.

Satu masalah yang selesai kami atasi

sebagai bukti penyertaan-Mu bersama dengan kami.

Engkau ada di dalam kami,

dan mengangkat kami ke tingkat lebih tinggi lagi,

mendewasakan kami, jiwa dan rohani.

Kami sangat bersyukur ya Bapa firman-Mu, logos dalam Alkitab

selalu menjadi Firman yang hidup.

Menjadi Rhema setiap hari bersamaan dengan tantangan hidup

yang Kau hadirkan bagi kami.

Tidak pernah Kau biarkan kami berdiam di tempat dalam waktu lama

tidak bergerak serta tidak ada perubahan

Karena Kau menyertai kami, dan Firman-Mu jadi pelita bagi kaki kami,

jadi terang bagi jalan kami.

Kami sadari kaki dan jalan yang Kau buka

mengharuskan kami bergerak.

Keseimbangan baru kami peroleh setelah kami beranjak untuk maju.

Kami ingin bisa Kau andalkan, Bapa,

untuk menangkap dan melaksanakan kehendak-Mu

yang jadi bagian kami.

Terima kasih Yesus Kristus

Kami berdoa dan mengucap syukur di dalam nama-Mu

Amin.

Oleh:   Team Moderator Doa-Satu-Menit 

 

RH Mutiara Iman

Senin, 9 Oktober 2017 biasa keduapuluh tujuh

Pm. St. Dionisius, dkk, UskMar ; Pm. St. Yohanes Leonardi, Im

(by: Rm. Ignasius Refo, Pr)


Mutiara Iman:

''Orang yang telah menunjukkan belaskasihan kepadanya.'' [Luk. 10: 37]

 

BACAAN PERTAMA (Yun. 1: 1-17; 2: 10)

Tuhan berfirman kepada Yunus bin Amitai, demikian, ''Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku''. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata, ''Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa''. Lalu berkatalah mereka satu sama lain, ''Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini.'' Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi. Berkatalah mereka kepadanya, ''Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?'' Sahutnya kepada mereka, ''Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan''. Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya, ''Apa yang telah kauperbuat?'' -- sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka, ''Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora''. Sahutnya kepada mereka, ''Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu''. Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya, ''Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki''. Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar. Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

 

MAZMUR TANGGAPAN: Yun. 2: 2-4. 7; R.: Yoh. 11: 25

Refr.   Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kebangkitan dan hidup.

Mazmur:

+      Ya Tuhan, dalam kesusahan aku berseru kepada-Mu

        dan Engkau menjawab aku;

        dari tengah-tengah alam maut aku berteriak,

        dan Engkau mendengarkan suaraku.

+      Engkau telah melemparkan daku ke tubir yang dalam,

        ke dasar samudera,

        dan aku tercengkam oleh arus laut;

        segala gelora dan gelombang-Mu menimbus aku.

+      Aku berkata, ''Telah terusir aku dari hadapan mata-Mu

        mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?''

+      Ketika jiwaku letih lesu di dalam diriku,

        teringatlah aku kepada Tuhan,

        maka sampailah doaku kepada-Mu,

        ke dalam bait-Mu yang kudus.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 13: 34)

P      Alleluya...

U     Alleluya...

P      Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;

        yaitu supaya kamu saling mencintai,

        sebagaimana Aku telah mencintai kamu.

U      Alleluya...

BACAAN INJIL – Luk. 10 : 25 - 37

Pada suatu ketika berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, ''Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?'' Jawab Yesus kepadanya, ''Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?'' Jawab orang itu, ''Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri''. Kata Yesus kepadanya, ''Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup''. Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, ''Dan siapakah sesamaku manusia?'' Jawab Yesus, ''Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?'' Jawab orang itu, ''Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya''. Kata Yesus kepadanya, ''Pergilah, dan perbuatlah demikian!''

St. Dionisius, Uskup dkk (Martir, -258, Pm)

Nama Montmartre terkenal bagi mereka yang pernah mengunjungi Paris, tetapi arti katanya mungkin kurang diselami. Montmartre berarti Gunung Martir. Nama itu diberikan untuk mengenangkan Dionisius, uskup pertama Paris, dan teman-temannya, ayitu seorang imam dan seorang diakon, yang gugur sebagai martir di bukit itu. Basilik yang dibangun di puncaknya mengingatkan orang akan mereka yang bercita-cita menjadikan Paris kota cahaya iman.

BACAAN PERTAMA (2Kor. 6: 4-10)

Saudara-saudara, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik;  dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.


MAZMUR TANGGAPAN (Mzm. 126: 1-2b. 2c-3. 4-5. 6; R. 5

Refr.    Yang menabur dengan cucuran air mata

            akan menuai dengan sorak sorai.

+       Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion,

         kita seperti orang-orang yang bermimpi.

         Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa ria,

         dan lidah kita dengan sorak sorai.

+      Pada waktu itu berkatalah orang di antara para bangsa,

         ''Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!''

         Tuhan telah melakukan perkara besar bagi kita,

         maka kita bersukacita.

+       Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan,

         seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

         Orang-orang yang menabur dengan cucuran air mata,

         akan menuai dengan bersorak-sorai.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 8: 12b)

P       Alleluya.            

U      Alleluya.

P       Akulah cahaya dunia!

         Barangsiapa ikut Aku, ia akan mempunyai cahaya hidup.

U      Alleluya.

BACAAN INJIL (Mat. 5: 13-16)

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada para murid, ''Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.  Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga''.

St. Yohanes Leonardi (Imam, 1541-1609, Pm)

Yohanes dilahirkan tahun 1541 di dekat Lucca, Toskana. Semula ia karyawan apotik. Pada usia 26 tahun ia mulai belajar theologi dan ditahbisakan tahun 1571. Di samping bertugas di rumah sakit dan penjara ia seturut Konsili Trente mengajar kaum muda dan menerbitkan buku pegangan pelajaran agama. Untuk mendukung kelangsungan karyanya ia mendirikan kelompok awam dan kemudian juga kelompok religius.

 

BACAAN PERTAMA (2Kor. 4: 1-2. 5-7)

Saudara-saudara, berkat kemurahan hati Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman, ''Dari dalam gelap akan terbit terang!'', Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

 

MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 96 : 1-2a. 2b-3.7-8a. 10 R/3

Refr.   Ceritakanlah karya-karya agung Tuhan

          di antara segala suku bangsa.

Mazmur :

+      Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan,

        bernyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi!

        Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya.

+      Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan

        yang datang dari pada-Nya.

        Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara para bangsa,

        kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.

+      Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa,

        kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!

        Berikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya,

        bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya.

+      Katakanlah di antara para bangsa, ''Tuhanlah Raja!

        Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah.

        Ia akan mengadili para bangsa dalam kebenaran''.

 

BAIT PENGANTAR INJIL (Mrk. 1 : 17)

P       Alleluya...

U      Alleluya...

P       Mari, ikutlah aku, kalian akan Kujadikan penjala manusia.

U      Alleluya...

BACAAN INJIL (Luk. 5: 1-11)

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, ''Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan''. Simon menjawab: ''Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.'' Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata, ''Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa''. Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, ''Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia''. Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. 

MEDITATIO:

Ajaran utama kita adalah cinta kasih. Namun mengetahui perintah cinta kasih belumlah cukup. Kasih kita harus keluar, karena kasih kepada diri sendiri adalah egois. Namun kepada siapa kita harus mengasihi dan itu nyata dalam perbuatan? Kita sering tertarik untuk menolong saudara sendiri, sahabat kita, dan orang yang bisa membalas kasih kita. Sedikit lebih luas, kita mudah membantu orang yang ganteng atau cantik dan orang yang sedaerah atau seagama dengan kita. Pokoknya kita menjadikan diri kita sebagai ukuran dan patokan untuk mengasihi. Namun, apakah ini yang diinginkan Yesus dari kita?

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa ukuran pertama dan utama orang yang perlu kita kasihi dan itu nyata dalam perbuatan adalah orang yang berada dalam kesulitan, entah itu mungkin berasal dari suku, budaya, bangsa, dan agama yang berbeda dengan kita. Dia yang menderita adalah sesama yang harus kita bantu.

Injil hari ini menampilkan orang Samaria yang baik hati. Yesus menilainya sebagai orang yang telah menunjukkan belaskasihan kepadanya. Titik tolak adalah dia yang sengsara sampai ia tertolong. Hatinya tergerak oleh besaldasihan karena menyaksikan penderitaan yang dialami.

Orang Samaria yang berbelaskasihan memperlihatkan kepada kita sebuah hati yang mau berkorban dari kepunyaannya, waktu, uang, tumpangan, dan tenaganya, karena ia tergerak oleh kebutuhan orang yang menderita itu. Pantaslah kita bermenung: bukankah saat-saat orang dalam kesulitan adalah kesempatan rahmat bagi kita untuk meringankan penderitaan mereka?

CONTEMPLATIO:

Pejamkanlah mata dan rasakan kehadiran Tuhan. Lalu, bayangkanlah orang Samaria dalam kisah Injil. Ia berjalan beserta keledai tunggangannya. Ia menolong orang itu dengan penuh belas kasih. Apakah hatimu tergerak juga bila melihat penderitaan sesama?

ORATIO:

Ya ALlahku, bukalah mata dan hatiku terhadap penderitaan dan kebutuhan sesama dan berilah aku keberanian untuk hadir dalam penderitaan mereka, walaupun itu menuntut waktu, tenaga, dan pengorbananku. Amin.

MISSIO:

Pada hari ini aku akan menjadi rasul belaskasih Tuhan kepada sesamaku.

ERH

PUJI TUHAN!

''Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!''

(Mazmur 150:6)


Baca: Mazmur 150

Coba kita memeriksa sejenak penyembahan kita kepada Tuhan selama ini! Apakah hanya ritual, tanpa penghayatan sama sekali, atau sekedar memenuhi kewajiban. Lebih parah lagi, bisa jadi hanya demi pemuasan kejiwaan kita yang membutuhkan kelepasan dari emosi-emosi negatif karena kerumitan hidup di dunia ini. Dengan mengangkat tangan, berteriak, menangis, kita mencoba menghibur diri dengan penyembahan yang hakikatnya berpusat pada diri sendiri! Kita lupa bahwa Dia yang bertakhta di tempat kudus-Nya, berhak menerima sembah kita tanpa embel-embel apa pun, tanpa motivasi sampingan apa pun. 

Mengapa Mazmur pungkasan ini mengajak umat untuk memuji Tuhan? Mazmur ini mau mengatakan bahwa memang Tuhan itu layak dipuji. Dia yang kudus, yang menguasai cakrawala, yang perkasa dengan segala kebesaran-Nya. Dengan apa memuji Tuhan? Tentunya dengan segala yang ada pada kita. Dengan tubuh kita, melalui harta kita, dengan sikap dan perbuatan kita. Melalui segala aspek kehidupan ini kita diminta untuk memuliakan Tuhan. Apa makna ajakan memuji Tuhan ini buat kita? 

Ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal, atau kita ternyata sedang mendua hati dengan hal-hal dunia ini yang lebih menarik daripada dengan Tuhan, kita perlu bertobat! Lantunkan ulang Mazmur ini. Mari hayati kembali penyembahan kepada Tuhan secara segar dan buka hati untuk menerima berkat-Nya.

BAIKLAH SEMUANYA MEMUJI NAMA TUHAN,

SEBAB DIA MEMBERI PERINTAH, 

MAKA SEMUANYA TERCIPTA.

—Mazmur 148:5

 

Ditulis oleh Eddy Nugroho

Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Berbagi Kasih