DKP

 

Doa Hari Selasa, 31 Oktober 2017

Sebagai orang berirman, kita semua bertekun dalam mengharapkan hidup mulia bersama Bapa di sruga. Kalau menanam cincao membutuhkan ketekunan selama beberapa bulan, mengharapkan kemuliaan surgawi butuh ketekunan seumur hidup.


Tuhan Allah kami yang Kudus
terima kasih karena kasih-Mu yang besar
Engkau bersedia kami panggil Bapa.
Kau adalah Bapa yang Kudus yang ada di Sorga
 
Firman Kristus, mengharuskan kami
untuk juga menjadi kudus.
Ada yang menjadi bagian kami,
tanggung jawab kami, yaitu untuk menjaga kekudusan.
 
Kami mengakui Allah maha hadir,
itu bermakna bahwa kami selalu ada di hadirat-Mu.
Di mana pun kami berada, dengan apa pun yang kami perbuat,
menjaga kekudusan, hal yang menyenangkan-Mu.
 
Di hari penghujung bulan kesepuluh ini,
kami bisa merenungkan banyak hal
selama sepuluh bulan terakhir ini.
Cukup banyak hal yang mengubah kami.
Kami rindu ya Bapa perubahan yang terjadi pada kami,
dari awal tahun sampai hari ini,
bisa membuat kami berkenan kepada-Mu.
 
Enam puluh hari sisa tahun ini yang harus kami lalui
dengan banyak hal yang tidak terlihat
banyak hal yang tidak diketahui
mengharuskan kami tekun belajar
untuk makin mengenal-Mu
melalui semua peristiwa yang menunggu.
 
Firman-Mu, Logos dalam Alkitab
memberi celah bagi kami untuk bisa mengintip
rencana-Mu yang indah bagi kami.
Kami bersyukur, mengikut-Mu Tuhan Yesus.
Di dalam nama-Mu kami telah berdoa dan mengucap syukur.
Demi nama Bapa, Putra dan Roh Kudus
Amin.
 
Oleh: Team Moderator Doa-Satu-Menit

RH Mutiara Iman
Selasa, 31 Oktober 2017 biasa ketigapuluh
(by: Mgr. Nicolaus Adi Saputra, MSC)

Mutiara Iman:
''Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.'' [Rm. 8: 19]

BACAAN PERTAMA (Rm. 8: 18-25)
Saudara-saudara, aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 126: 1-2ab. 2cd-3. 4-5. 6; R. 3a
Refr. Sungguh agung karya Tuhan bagi kita.

Mazmur:
+ Ketika Tuhan memulangkan tawanan Sion,
 kita seperti orang yang bermimpi.
 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa
 dan lidah kita dengan sorak-sorai.

+ Bahkan bangsa-bangsa kafir mengakui,
 “Agunglah karya Tuhan bagi mereka”.
 Sungguh agung karya Tuhan bagi kita,
 sebab itu kita bersukacita.

+ Tuhan telah memulihkan nasib kita,
 seperti sungai kering berair lagi di musim hujan.
 Yang menabur dengan bercucuran air mata,
 akan menuai dengan bersorak-sorai.

+ Ia pergi dengan menangis sambil membawa kantong benihnya;
 ia pulang sambil bernyanyi membawa berkas panenannya.

BAIT PENGANTAR INJIL  (lh. Mat. 11: 25)
P  Alleluya...
U Alleluya...
P Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi,
 sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.
U  Alleluya...

BACAAN INJIL (Luk. 13: 18-21)
Yesus berkata, ''Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya''. Dan Ia berkata lagi, ''Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya''.
 
MEDITATIO:
Saya menanam (pohon) tanaman cingcao. Bibitnya saya bawa dari Jakarta, diberi oleh seorang teman. SUlur-sulurnya amat kecil dan halus seperti lidi. Bibit itu berupa ''stek''(bagian batang) dan tidak ada akarnya. Dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, sya tanam di tempat persemaian. Tiap hari saya perhatikan dan saya sirami air pelan-pean supaya tidak ada sulur yang patah atau rusak. Saya amat berharap bahwa tanaman yang langka itu bisa tumbuh di kebun saya.

Ketekunan saya itu membuahkan hasil . Beberapa hari kemudian, tampak tumbuh kuncup yang masih amat kecil. Itu tanda bahwa batang yang saya tanam itu mulai tumbuh akarnya. Kini pohon cingcao itu sudah menjadi besar, banyak cabangnya dan merambat di anayman kayu yang saya pasang. Daunnya segar-segar dan banyak.

Sebagai orang berirman, kita semua bertekun dalam mengharapkan hidup mulia bersama Bapa di sruga. Kalau menanam cinbcao membutuhkan ketekunan selama beberapa bulan, mengharapkan kemuliaan surgawi butuh ketekunan seumur hidup.

CONTEMPLATIO:
Ambillah Rosario. Doakan 1x Rosario dengan pelan-pelan. Hadirkan kembali pengalaman-pengalaman kesuksesan yang Anda alami sampai saat ini, sebagai buah-buah dan ketekunan Anda. Kesuksesan itu adalah karunia Allah yang Anda harapkan dan Anda perjuangkan dengan penuh ketekunan Anda sendiri, pasangan Anda, anak-anak Anda, dan mereka yang bekerjasama dengan Anda.

ORATIO:
Tuhan, aku mengucap syukur atas kesuksesan yang telah aku alami hingga hari ini. Berkatilah dan berikan anugerah yang dibutuhkan oleh saudara-saudari yang telah memungkinkan aku mengalami kesuksesan ini. Amin.

MISSIO:
Aku akan memberikan 5 persen dari keuntungan/penghasilanku pada bulan ini kepad amereka yang membutuhkan bantuan.
 
Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Bertekun dalam Doa