DKP

 

Doa Hari Kamis, 7 Desember 2017

Mendirikan rumah dalam perikop ini adalah ungkapan tentang mendirikna hidup kita. Hidup kita akan bahagia kalau hidup itu didirikan di atas wadas yang kokoh yaitu Yesus Kristus. Namun iman sejati adalah iman yang mesti juga diwujudkan dalam tindakan.


Bapa kami yang agung dan mulia
Terima kasih karena dengan mengenal-Mu melalui Yesus
maka pengertian-demi pengertian
akan kebenaran yang Kau tetapkan
dapat kami cerna dan pahami.
Itu sungguh membuat kami
menjadi ingin berubah dan terus berubah
menjadi anak-anak-Mu yang dapat Kau andalkan.
Bukan hanya bangga dengan status sebagai anak-Mu saja.
 
Bahkan status itu juga
pernah membuat kami menjadi sombong
dan merasa paling dekat kepada-Mu.
Kami merasa berhak untuk meminta
apa pun yang kami ingini,
kami memintanya di dalam nama-Mu, Tuhan Yesus.
 
Ampuni kami ya Bapa
karena kami telah menyalah-gunakan nama Sang Putra
untuk memaksa-Mu mengabulkan
apa pun permintaan kami.
Sungguh kami telah melukai-Mu
dengan kebodohan dan kesalahan ini.
 
Terima kasih karena Kau membukakan mata kami
dengan hal yang Kau ajarkan
terlebih dengan yang Kau lakukan
selama memberikan teladan
dalam ketaatan melaksanakan kehendak Bapa.
 
Kau lepaskan kesetaraan dengan Allah
dan mengambil rupa seorang manusia biasa.
Lahir di kandang yang hina
tanpa minta Bapa mencampuri
semua pelaksanaan tugas penyelamatan.
 
Kami pun ingin bisa seperti-Mu, Tuhan Yesus,
setia dalam melakukan tugas kami,
dalam menghadapi semua kesulitan.
Hanya di dalam nama-Mu,
kami telah berdoa dan mengucap syukur.
Amin.

Oleh : Team Moderator Doa-Satu-Menit

 
RH Mutiara Iman
Kamis, 7 Desember 2017 dalam pekan Adven pertama
Pw. St. Ambrosius, UskPujGrj
(by: Rm. Mateus Mali, Pr)

Mutiara Iman:
''Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.'' [Mat. 7: 21]

BACAAN PERTAMA [Yes. 26: 1-6]
Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda, ''Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya''.
 
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 117: 1. 8-9. 19-21. 25-27a; R. 26a
Refr. Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan.
 
Mazmur :
+    Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,
      kekal abadi kasih setia-Nya.
      Lebih baik berlindung pada Tuhan
      daripada percaya kepada manusia.
      Lebih baik berlindung pada Tuhan
      dari pada percaya kepada bangsawan.
 
+    Bukalah bagiku gerbang kemenangan,
      supaya aku masuk dan bersyukur kepada Tuhan.
      Inilah pintu gerbang Tuhan,
      para pemenang masuk ke dalamnya.
      Syukur kepada-Mu, sebab Engkau memenangkan daku
      dan menjadi penyelamatku.
 
+    Ya Tuhan, berilah kami keselamatan!
      Ya Tuhan, berilah kami kesejahteraan!
      Terberkatilah yang datang demi nama Tuhan;
      kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan.
      Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita.
 
BAIT PENGANTAR INJIL  (Yes. 55: 6)
P     Alleluya...
U    Alleluya...
P     Carilah Tuhan selama Ia masih dapat ditemui;
       berserulah kepada-Nya selama ia masih dekat.
U    Alleluya...
 
BACAAN INJIL [Mat. 7: 21. 24-27]
Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, ''Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya''.
 
St. Ambrosius (Uskup dan Pujangga Gereja, 340-397, Pw)
''Suara rakyat, suara Tuhan!'' demikianlah bunyi sebuah pepatah. Ketika Ambrosius sebagai pejabat pemerintah kota sedang menenangkan pemilihan uskup Milan yang agak kacau, tiba-tiba ada orang yang berseru, ''Ambrosius uskup!'' Dan serentak semua orang menyerukan yang sama. Kepercayaan rakyat itu tidak dikecewakan. Ambrosius yang lahir di Trier tahun 339 mencurahkan segala daya kekuatannya pada pengabdian ayng baru. Sejak ditahbiskan uskup 7 Desember 374 ia mendalami para bapa Gereja Yunani yang diselaraskan dengan gambaran antik Romawi. Ia membela gereja Milan terhadap ambisi Ratu Yustina, pengikut Arianisme, dan menolak campur tangan pemerintah dalam urusan gerejani. Ia berkhotbah dan menjelaskan Kitab Suci kepada umatnya, menyusun kidung-kidung menurut gaya timur untuk liturgi Barat. Kehidupan askese didorongnya; kebaktian kepada Bunda Maria didukungnya. Ia juga ikut berperan dalam pertobatan Santo Agustinus.
 
BACAAN PERTAMA [Ef. 3: 8-12]
Saudara-saudara, aku ini orang yang paling hina di antara semua orang kudus. Tetapi kepadaku telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.
 
MAZMUR TANGGAPAN: Mzm. 89: 2-3. 4-5. 21-22. 25-27; R. 2a
Refr.   Kasih setia-Mu, ya Tuhan, hendak kunyanyikan selama-lamanya.
 
Mazmur:
+      Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya,
        hendak menuturkan kesetiaan-Mu turun temurun.
        Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;
        kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
 
+      Engkau berkata, ''Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,
        Aku telah bersumpah kepada Daud hamba-Ku;
        Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selamanya,
        dan membangun takhtamu turun-temurun''.
 
+      Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku;
        Aku telah mengurapinya dengan minyak-ku yang kudus,
        maka tangan-Ku tetap menyertai dia,
        bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.
 
+      Kesetiaan dan kasih-Ku menyertai dia,
        dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.
        Dia pun akan berseru kepada-Ku, ''Bapakulah Engkau,
        Allahku dan gunung batu keselamatanku''.
 
BAIT PENGANTAR INJIL  (Yoh. 10: 14)
P      Alleluya.            
U     Alleluya.
P      Akulah gembala yang baik.
        Aku mengenal domba-domba-Ku,
        dan domba-domba-Ku mengenal Aku.
U     Alleluya.
 
BACAAN INJIL [Yoh. 10: 11-16]
Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada orang-orang Farisi, ''Aku ini gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala''.
 
 
MEDITATIO:
Perikop yang kita baca hari ini adalah penutup dari seluruh kotbah Yesus di atas bukit, yang tersimpan dalam Mat bab 5-7. Kotbah Yesus di atas bukit adalah pengajaran khusus yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Yang menarik kotbah itu dimulai dengan ungkapan ''berbahagialah'' dan ditutup dengan ungkapan ''bijaksana.'' Orang yang berbahagia adalah orang yang bijaksana yang mendirikan hidupnya pada imannya yang kokoh akan kehadiran Yesus Kristus. Fondasi hidup manusia adalah imannya yang kokoh akan Yesus Kristus dan tidak mendirikan atas iman yang lainnya, misalnya kepada kepercayaan yang sia-sia, tahyul, benda-benda pusaka, dll.
 
Mendirikan rumah dalam perikop ini adalah ungkapan tentang mendirikna hidup kita. Hidup kita akan bahagia kalau hidup itu didirikan di atas wadas yang kokoh yaitu Yesus Kristus. Namun iman sejati adalah iman yang mesti juga diwujudkan dalam tindakan. Yesus bersabda, ''Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainka dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.'' Kehendak Bapa adalah bahwa kita saling mengasihi satu sama lain.
 
CONTEMPLATIO:
Bayangkanlah Anda sedang duduk dengan para murid untuk mendengarkan kotbah Yesus di atas bukit. Sanggupkah Anda membangun hidupmu yang bijaksana, yakni beriman kepada Yesus?
 
ORATIO:
Ya Yesusku, buatlah imanku semakin teguh untuk berpegang kepada-Mu sebab Engkaulah Mesias Anak Allah yang hidup. Pada-Mulah hidupku akan terbangun dengan kokoh dan teguh. Amin.
 
MISSIO:
Aku mau setia kepada Yesus dan tidak meninggalkan imanku akan Dia seumur hidupku walaupun begitu banyak beban dan godaan yang kualami.

ERH
PERLU BULDOSER
 
''Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir,
di mana kamu diam dahulu;
juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan,
ke mana Aku membawa kamu;
janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka.''
(Imamat 18:3)
 
Baca: Imamat 18:1-5
TUHAN berfirman kepada Musa: ''Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu diam dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka. Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu. Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.
 
Seorang guru berjalan dengan muridnya. Ia menunjuk pada pohon kecil, ''Cabutlah!'' Murid itu mencabutnya dengan dua jari. Lalu, mereka mendekati pohon yang agak besar. ''Cabutlah!'' kata guru. Murid itu mencabutnya dengan dua tangan. Akhirnya mereka berhenti di dekat pohon yang sangat besar. ''Cabutlah!'' kata guru. ''Tidak mungkin, perlu buldoser!'' protes muridnya. Guru itu berkata, ''Benar, engkau dapat mencabut kebiasaan yang belum berakar dengan sangat mudah. Engkau membutuhkan usaha kuat untuk mencabut kebiasaan yang akarnya mulai mendalam. Engkau sulit sekali mencabut kebiasaan yang telah berakar sangat dalam.''

Tuhan memerintahkan bangsa Israel agar tidak mengikuti kebiasaan bangsa Mesir, tempat asal mereka, dan bangsa Kanaan, tempat tujuan mereka. Sebaliknya, mereka harus melakukan peraturan Tuhan dan berpegang pada ketetapan-Nya (ay. 3-4). Tuhan juga berfirman agar bangsa Israel jangan membiasakan diri dengan tingkah bangsa-bangsa penyembah berhala (Yer. 10:2). Kitab Amsal menasihati agar kita jangan menjadi biasa dengan tingkah laku orang yang lekas gusar dan pemarah (Ams. 22:24-25).

Hati-hatilah membentuk kebiasaan. Tanamkan kebiasaan baik yang sesuai dengan perintah Tuhan dan segera cabut kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan. Ya, selagi masih baru, masih mudah mencabutnya, belum berakar dalam. Bila ada kebiasaan buruk yang sudah telanjur menahun, bahkan sudah mendarah daging, kita harus memaksakan diri, nekat meninggalkannya.

KUNCI SUKSES ADALAH
MAU DAN BERANI MENGUBAH KEBIASAAN BURUK
MENJADI KEBIASAAN YANG BAIK DAN BENAR
 
Ditulis oleh Lim Ivenina Natasya
Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Mengasihi