DKP

 

Doa Hari Selasa, 9 Januari 2018

Setiap hari kita berkata-kata. Namun, pertanyaannya adalah apakah kata-kata kita itu meneguhkan dan bukan mematikan, memuji dan bukan mencela?


Allah Bapa kami yang ada di surga
kami mengucap syukur kepada-Mu
untuk keadaan kami hari ini.
Apa adanya kami saat ini
semua adalah anugerah dari-Mu, Bapa.
Juga kami bersyukur
karena kami Kau beri kemampuan untuk meresponnya
dengan cara mengikuti cara Yesus
yang terekstraksi dari empat kitab Injil.
 
Ada kalanya kami meleset
dengan memunculkan diri pribadi
yang tidak bermanfaat apa pun,
dan semua baru dapat kami sadari setelah terjadi.
Terima kasih ya Tuhan Yesus
evaluasi diri bisa segera kami alami,
karena belajar kepada-Mu
untuk lemah lembut dan rendah hati,
bersedia untuk memikul beban dan kuk.
 
Terima kasih ya Bapa
untuk pekan kerja yang sedang kami jalani
dengan begitu banyak beban kerja
yang harus kami hadapi dan kami selesaikan.
Kau sedang membentuk kami
dengan segala cara yang sangat indah.
 
Pengendalian diri yang Kau ajarkan
memampukan kami melihat keindahan
muncul di antara semua jadwal padat.
Kami dapat menikmatinya
dan mengucap syukur atasnya.
Melakukan semua itu untuk-Mu, Tuhan.
Karena tidak ada agenda lain
setelah hidup kami ini menjadi milik-Mu
yang sudah Kau tebus dengan darah-Mu yang kudus.
 
Memanggil Allah dengan sebutan Bapa
sungguh bermakna sebuah tanggung jawab
untuk terus makin mengenal-Mu
dan meneladani karakter Kristus
agar menjadi sempurna,
agar menjadi kudus.
Dalam nama-Mu kami telah berdoa
dan mengucap syukur.
Amin.

Oleh: Team Moderator Doa-Satu-Menit


RH Mutiara Iman
Selasa Pekan Pertama – Tahun II
9 Januari 2018
(by : Rm. Ignasius Refo, Pr)
 
Mutiara Iman :
''Apa itu? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.'' [Mrk. 1: 27]
 
BACAAN PERTAMA [1Sam. 1: 9-20]
Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya, ''TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya''. Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya, ''Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu''. Tetapi Hana menjawab, ''Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama''. Jawab Eli, ''Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya''. Sesudah itu berkatalah perempuan itu, ''Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu''. Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi. Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya, ''Aku telah memintanya dari pada TUHAN''.
 
MAZMUR TANGGAPAN [1Sam. 2: 1.4-8d; R.1a]
Refr.   Hatiku bersuka ria karena Tuhan, penyelamatku.
 
Mazmur
+      Hatiku bersuka ria karena Tuhan,
        aku bermegah-megah karena Allahku.
        Mulutku mengejek musuh,
        karena aku gembira atas pertolongan-Mu.
 
+      Sudah patahlah busur para perkasa,
        dan orang lemah dipersenjatai kekuatan.
        Orang yang kenyang harus mencari nafkah,
        orang kelaparan mengaso dari kerjanya.
        Orang mandul melahirkan tujuh kali,
        tetapi ibu yang beranak banyak menjadi layu.
 
+      Tuhan berkuasa atas mati dan hidup,
        menurunkan ke alam maut dan menaikkan dari sana.
        Tuhan membuat miskin dan membuat kaya,
        Ia merendahkan dan meninggikan.
 
+      Ia menegakkan dari debu orang yang hina,
        mengangkat dari persampahan orang miskin.
        Tuhan mendudukkan dia di antara para bangsawan
        dan memberinya tempat kehormatan.
 
BAIT PENGANTAR INJIL (lh. 1Tes. 2: 13)
P       Alleluya...
U       Alleluya...
P       Kamu telah menyambut sabda keselamatan,
        bukan sebagai perkataan manusia,
        melainkan sebagai sabda Allah.
U       Alleluya...
 
BACAAN INJIL [Mrk. 1: 21b-28]
Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di kota Kapernaum dan mengajar di sana. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, ''Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah''. Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya, ''Diam, keluarlah dari padanya!'' Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, ''Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya''. Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.
 
MEDITATIO:
Mustahil bila orang-orang sezaman dengan Yesus tidak memiliki guru, pengajar, dan ahli Taurat yang berwibawa dalam pengajaran mereka. Namun para saksi mata memberikan kesimpulan yang jelas setelah mereka menyaksikan sendiri pengajaran Yesus. ''Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.'' Jika ahli-ahli Taurat hanya berbicara dengan mengulangi kata-kata para leluhur mereka sebagaimana terdapat pada Kitab Suci, Yesus melampauinya dengan menunjukkan kuasa dan wibawa yang ada di dalam diri-Nya sebagai Yang Kudus dari Allah.
 
Di sini tampak jelas bahwa kata-kata akan semakin berwibawa, jika diucapkan oleh pribadi yang berwibawa. Allah menciptakan alam semesta dengan berkata. Tuhan Yesus pun mengadakan mukjizat dengan kata-kata. Dengan demikian, kata-kata bukan saja sebagai ungkapan gagasan seseorang atau semacam slogan, tetapi kata-kata itu mengungkapkan kuasa dan kekayaan batin.
 
Setiap hari kita berkata-kata. Namun, pertanyaannya adalah apakah kata-kata kita itu meneguhkan dan bukan mematikan, memuji dan bukan mencela? Lebih dari itu, kita perlu menyadari bahwa kata-kata dapat memiliki kuasa dan wibawa, manakala kata-kata itu keluar dari iman yang sungguh kepada Tuhan.

CONTEMPLATIO:
Bayangkanlah Anda berada pada saat Yesus menyembuhkan. Apakah Anda terpesona memandang Yesus? Lata-kata-Nya penuh daya penyembuh. Mohonkanlah pada Yesus, agar Ia pun menyembuhkanmu.

ORATIO:
Tuhan Yesus, buatlah aku semakin mengandalkan-Mu dalam hidupku. Singkirkanlah kesombongan dalam diriku. Jadikanlah aku peka seperti-Mu. Amin.

MISSIO:
Hari ini aku akan menjaga pikiran dan perkataanku. Dari dalam mulutku akan keluar pujian dan peneguhan kepada setiap orang yang aku jumpai.
 
ERH
TERANG ITU BAIK
 
''Allah melihat bahwa terang itu baik ...''
(Kejadian 1:4)
 
Baca: Kejadian 1:3-5
Berfirmanlah Allah: ''Jadilah terang.'' Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
 
Suatu hari, saya bekerja lembur dengan harapan pekerjaan saya selesai sebelum matahari terbit. Ternyata, sampai dengan terbitnya matahari, pekerjaan itu belum berhasil saya rampungkan. Akibatnya, saya merasa tidak bersyukur ketika terang merekah pada pagi hari. Saya justru bersungut-sungut karena memandang terang itu sebagai pertanda buruk dari sang waktu yang tidak bisa berkompromi.

Akan tetapi, diperhadapkan dengan bacaan saat ini, saya jadi merenung: Sesuaikah pandangan saya tadi dengan pandangan Allah? Bukankah sejak awal penciptaan, Allah melihat bahwa ''terang itu baik''? Bagi Allah, terang yang diciptakan-Nya pada hari pertama itu baik karena menyatakan keberadaan-Nya sebagai Terang Abadi. Allah juga melihat bahwa terang ciptaan-Nya itu baik karena dengan bantuan terang itulah, segala yang tercipta pada hari-hari berikutnya bisa melihat karya kemuliaan-Nya. Memang, saat itu kegelapan belum lenyap sama sekali. Namun, Allah mengatur sedemikian rupa sehingga gelap petang akhirnya diganti dengan remang pagi dan remang pagi menjadi siang terang.

Ya, terang itu baik. Oleh karena itu, setiap kali melihat terang itu merekah, sepatutnya kita bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah. Biarlah terang itu mengingatkan kita akan kebaikan- Nya. Bersama Philipp von Zesen dan Johann Georg Ahle, kita bisa bernyanyi: ''Gembira sekali kulihat kembali terang merekah, dan Bapa di surga, yang Bapaku juga, hendak kusembah'' (KJ 322:2).

BERSYUKURLAH SETIAP MELIHAT TERANG MEREKAH
KARENA TERANG ITU BAIK DI MATA ALLAH

Ditulis oleh Yosafat Agung Prabowo
Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Yesus Mengusir Roh Jahat