DKP

 

Doa Hari Rabu, 10 Januari 2018

Di tengah kesibukannya, Yesus tidak pernah lupa untuk membangun komunikasi dengan Bapa-Nya. Doa-Nya memperlihatkan bahwa dalam kemanusiaan-Nya Ia bergantung kepada Bapa untuk menjalankan rencana Bapa-Nya dan tunduk kepada kehendak Bapa-Nya.


Bapa kami yang di sorga
Engkaulah Allah yang kudus dan mulia
yang hadir bersama sama dengan Firman.
Dan Firman itu adalah Allah.
Pada mulanya Firman itu bersama dengan Allah.
Sungguh beruntung kami ya Bapa
dapat mengenal-Mu melalui Firman yang menjadi manusia,
Firman yang pada mulanya bersama dengan Allah
yang juga adalah Allah.
 
Memiliki kesetaraan dengan Allah
untuk menyelamatkan umat manusia,
Firman menjelma menjadi manusia,
mengambil rupa hamba,
menjadi mudah dipahami manusia,
menjadi mudah dimengerti manusia,
menjadi mudah diteladani manusia.
Kami beruntung mendapat kesempatan ini
dapat mengenal Bapa dari sosok manusia
yang melakukan semua kehendak Bapa
secara tulus, jujur, sadar, dan sengaja
tanpa memunculkan ego pribadi-Nya.
 
Saat direndahkan dan dicerca
Ia tidak tergoda untuk unjuk diri.
Saat disakiti dan dilukai,
Ia tidak tergiur pula untuk unjuk kuasa.
Cara Tuhan Yesus mengajar kami
sangat banyak dari yang Kau lakukan,
dibandingkan dari yang Kau katakan.
Ketika kami menyadari hal ini
mengikuti dan meneladani-Mu
adalah berarti melakukan yang Kau lakukan,
bukan sekedar melakukan yang Kau katakan.
Saat melaksanakan semua kehendak Bapa.
Kau perintahkan agar semua bangsa
menjadi murid-Mu dan mengenal-Mu
melalui hidup kami, seluruh hidup.
Layaknya kami mendapat perintah dari-Mu.
Terima kasih Tuhan Yesus
menjadi pengikut-Mu adalah menjadi seperti-Mu
 
Di dalam nama-Mu
kami telah berdoa dan mengucap syukur.
Amin.

Oleh : Team Moderator Doa-Satu-Menit


RH Mutiara Iman
Rabu Pekan Pertama - Tahun II
10 Januari 2017
(by: Rm. Ignasius Refo, Pr)
 
Mutiara Iman :
''Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana'' [Mrk 1:35]
 
BACAAN PERTAMA [1Sam. 3: 1-10. 19-20]
Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah. Lalu TUHAN memanggil, ''Samuel! Samuel!'', dan ia menjawab, ''Ya, bapa''. Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya, ''Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?'' Tetapi Eli berkata, ''Aku tidak memanggil; tidurlah kembali''. Lalu pergilah ia tidur. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata, ''Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?'' Tetapi Eli berkata, ''Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali''. Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya, ''Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?'' Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel, ''Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar''. Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah, ''Samuel! Samuel!'' Dan Samuel menjawab, ''Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar''. Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.
 
MAZMUR TANGGAPAN [Mzm. 40 2. 5. 7-10; R. 8a. 9a]
Refr.   Ya Tuhan, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.
 
Mazmur
+      Dengan amat sangat aku mengharapkan Tuhan,
        Ia mengindahkan daku dan mendengarkan seruanku.
        Berbahagialah orang yang percaya kepada Tuhan,
        yang tak bergaul dengan orang durhaka atau penipu.
 
+      Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan
        tetapi Engkau telah membuka telingaku bagi suara-Mu.
        Kurban bakar dan kurban pelunas tidak Kautuntut,
        maka aku berkata kepada-Mu: Aku datang.
 
+      Sesuai dengan firman-Mu aku datang
        untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku,
        kesukaanku ialah hukum-Mu yang terukir dalam hatiku.
 
+      Di tengah himpunan umat aku mengabarkan kesetiaan-Mu,
        tidak kututup bibirku, Tuhan, Engkau tahu.
 
BAIT PENGANTAR INJIL (Yoh. 10: 27)
P       Alleluya...
U      Alleluya...
P       Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan,
         Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.
U      Alleluya.
 
BACAAN INJIL [Mrk. 1: 29-39]
Pada suatu hari Yesus keluar dari rumah ibadat itu bersama Yakobus dan Yohanes dan pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata, ''Semua orang mencari Engkau''. Jawab-Nya, ''Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang''. Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.
 
MEDITATIO:
Aktivitas Tuhan Yesus ternyata sangat padat. Jika dihubungkan dengan perikop Injil sebelumnya, tampak bila Yesus mengawali aktivitasnya dengan mengajar di Bait Allah. Setelah itu, Yesus mengadakan kunjungan keluarga, ke rumah Simon dan Andreas. Di rumah itu Ia menyembuhkan ibu mertua Simon yang sakit. Menjelang malam, berbondong-bondong orang datang membawa orang sakit dan kerasukan setan. Yesus melayani dengan sabar, menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai macam penyakit dan mengusir banyak setan. Dari sisi kemanusiaan-Nya, Yesus pasti sangat capek karena aktivitasnya yang padat itu. Namun ternyata ''pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.''
 
Di tengah kesibukannya, Yesus tidak pernah lupa untuk membangun komunikasi dengan Bapa-Nya. Doa-Nya memperlihatkan bahwa dalam kemanusiaan-Nya Ia bergantung kepada Bapa untuk menjalankan rencana Bapa-Nya dan tunduk kepada kehendak Bapa-Nya. Dalam doa-Nya pula, Yesus meminta kuasa (Yoh. 11: 41-42) dan hikmat (Mrk. 1: 35).
 
Ketika kita memiliki waktu senggang, mungkin saja kita meluangkan waktu untuk berdoa. Namun apakah kita msih memiliki waktu untuk berdoa kepada Tuhan, jika kita dililit banyak pekerjaan? Lebih parah lagi, kita mempunyai waktu luang, tetapi kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Yesus mengajar kita untuk meluangkan waktu dalam keheningan doa.

CONTEMPLATIO:
Dalam keheningan, rasakan kehadiran Tuhan. Katakanlah dengan lembut, ''Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.'' Ulangilah kata-kata itu beberapa kali dengan lembut. Masuklah dalam keheningan…

ORATIO:
Tuhanku, akku bersyukur atas segala waktu dan pekerjaan yang Kau berikan padaku. Bantulah aku, agar tidak pernah lupa akan Dikau, karena Engkaulah sumber hidupku. Amin.

MISSIO:
Hari ini aku akan berdoa lebih sungguh dan mengajak teman-temanku untuk tidak lupa berdoa.
 
ERH
BERMIMPI BESAR
 
''Tiap-tiap hari berjalan-jalanlah Mordekhai
di depan pelataran balai perempuan itu
untuk mengetahui bagaimana keadaan Ester
dan apa yang akan berlaku atasnya.''
(Ester 2:11)

Baca: Ester 2:5-18
Sebuah penelitian dilakukan atas para orangtua -- terutama Ibu -- dari orang-orang yang berhasil mencapai prestasi besar di dalam hidup mereka. Salah satu yang menarik adalah nyaris semua dari para tokoh besar dan berpengaruh dalam masyarakatnya itu memiliki orangtua, terutama ibu, yang berani bermimpi besar. Mereka adalah produk dari kerja keras demi meraih mimpi besar itu.

Kitab Ester berkisah tentang ajaibnya seorang gadis bangsa jajahan yang dibuang yang berhasil menduduki kursi seorang ratu di kerajaan Persia Raya. Hal yang pada gilirannya berdampak besar untuk keselamatan bangsa itu. Namun, pencapaian itu tak lepas dari peran saudara sepupunya, yakni Mordekhai (ay. 7). Pria ini tak kenal lelah mengasuh si gadis rupawan itu, melihat potensinya, mendukungnya, mencarikan peluang baginya, dan yang berani bermimpi besar untuknya.

Bakat seseorang adalah karunia Tuhan. Tetapi harus ada seseorang yang mau membimbing, mendorong, memberi inspirasi, dan mengasahnya supaya kian tajam. Anda seorang pendidik, kakak pembina, pelatih, mentor, tutor, atau orangtua? Cermatilah potensi anak, adik atau anak didikmu. Bukan kebetulan Tuhan mempertemukanmu dengan mereka. Bermimpilah besar dan berjuanglah bersama mereka. Siapa tahu mereka kelak dipakai Tuhan untuk peran-peran strategis yang memberkati masyarakat?

TUHAN BESERTA ORANG-ORANG YANG BERANI BERMIMPI BESAR
DAN BERJUANG BAGI KERAJAAN-NYA DI BUMI INI
 
Ditulis oleh Pipi Agus Dhali
Tuhan memberkati +


Galeri Foto

Jesus Praying