Ruang Iman

 

Tahun Ekaristi, Tahun Penebusan

 

''Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.'' (Yoh 6:51)




Pastor Ignatius Eddy Putranto, OSC

Tema Tahun Ekaristi 2012 Keuskupan Bandung bertemakan ''Ekaristi: Perayaan Kita, Perayaan Semesta.'' Apa yang terkadung dalam tema itu? Ekaristi adalah sebuah perayaan, yaitu perayaan syukur (=eucharistia) atas penebusan. Kita semua yang dibaptis telah ditebus dengan darah Kristus di salib. (bdk. Rom 6:4-5) Iman akan penebusan itu menjadi dasar untuk bisa merayakan Ekaristi. Kita tidak bisa sungguh merayakan dan memaknai perayaan Ekaristi kalau kita sendiri tidak bersyukur atas penebusan itu. Oleh karena itu, kalau kita datang ke gereja untuk merayakan Ekaristi, sangatlah penting kita datang dengan penuh syukur atas karya penebusan Allah bagi kita.

Jemaat perdana selalu mensyukuri rahmat penebusan itu dan mengenangkannya dengan cara berkumpul bersama dan memecah roti. Setelah memberi diri untuk dibaptis, ''mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa.'' (Kis. 2:42,46; lih. Kis 20: 7). Pemecahan roti itu mengacu pada perjamuan yang dilakukan oleh Yesus pada Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya. ''Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya  kepada mereka,  kata-Nya: ''Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.'' (Luk 22:19). Dengan berkumpul dan memecah roti, jemaat perdana bersyukur atas kurban Kristus yang telah memberikan diri-Nya untuk santapan keselamatan.

Umat Gereja perdana itu selalu mengalami kebaharuan hidup lewat perjumpaannya dengan Kristus dalam pemecahan roti. Mereka menyadari betapa pentingya berkumpul untuk berdoa dan memecah roti dalam hidup mereka. Santo Ignatius dari Antiokia yang hidup pada abad I menggambarkan bahwa orang-orang kristen yang setiap hari pertama dalam pekan (Minggu) berkumpul adalah orang-orang yang ''mendapatkan harapan baru'' dan ''hidup selaras dengan hari Tuhan.'' Hari Minggu adalah hari Tuhan di mana jemaat berkumpul merayakan hari penebusan dan harapan baru serta menyelaraskan diri dengan hidup Tuhan sendiri yang menebus dan memberi harapan baru.

Dengan penebusan itu, kita menyadari bahwa diri kita dicintai Allah. Kita ini orang berdosa tetapi tetap dicintai Allah. Hidup kita mungkin rusak karena berbagai macam kelemahan dan kesalahan, tetapi tetap dicintai Allah. Dengan penebusan dan cinta Allah ini, hidup kita dimerdekakan. Dosa kita ditebus dan hidup kita diberi harapan baru. Itulah mengapa Ekaristi menjadi perayaan kita, yaitu perayaan syukur kita atas penebusan dan cinta Allah.

Namun, rahmat penebusan itu tidak hanya terjadi pada waktu Yesus mengurbankan diri-Nya di salib. Rahmat penebusan itu terus-menerus mengalir setiap kali Ekaristi dirayakan. ''Di dalam Sakramen Ekaristi, Penebus kita, yang telah mengambil wujud manusia dalam rahim Maria dua ribu tahun lalu, terus menerus memberikan diri-Nya bagi kemanusiaan sebagai sumber kehidupan ilahi.''[1] Oleh karena itu, karya penebusan Allah terus terjadi dalam Ekaristi. Kita dipanggil untuk membawa rahmat penebusan itu sepulang dari perayaan Ekaristi. Melalui hidup kita yang telah dipersatukan dengan Kristus dalam Ekaristi, rahmat penebusan itu terus mengalir dan menguduskan dunia. Ekaristi menjadi sumber kekuatan agar kita dapat menjadi pribadi dan persekutuan ekaristis, yaitu pribadi dan persekutuan yang menyediakan diri untuk menjadi alat penebusan dan pengudusan dunia. Dengan demikian, Ekaristi menjadi perayaan semesta, perayaan bagi semua orang dan segenap ciptaan yang mengalami kasih Allah yang mengalir dari Ekaristi. Itulah panggilan ekaristi kita, yaitu untuk menjadi alat pengudusan dan kasih Allah seperti halnya Allah telah menguduskan dan mengasihi kita dalam Ekaristi.

Kita menyantap roti kehidupan dalam perayaan Ekaristi. Roti yang kita santap itu bukan hanya untuk kekudusan kita sendiri, tetapi juga untuk kehidupan dunia. ''Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.'' (Yoh 6:51) Oleh karena itu, kata ''amin'' yang kita ucapkan setiap kali kita menerima Roti kehidupan dalam perayaan Ekaristi mempunyai arti kesiap-sediaan untuk menyelaraskan diri dengan hidup Tuhan menjadi anggota Tubuh Kristus, yaitu Gereja, yang siap dibagi dan memberikan diri. Kita hendaknya semakin menghayati bahwa Kurban Kristus dalam Ekaristi adalah untuk dunia, dan kita bersama Kristus merelakan diri untuk menjadi ''roti kehidupan'' yang dipecah dan dibagi demi hidup dunia.

Ekaristi adalah peristiwa penebusan yang mengalirkan rahmat penebusan Kristus kepada dunia. Tahun Ekaristi 2012 yang telah kita tetapkan mengajak kita semua untuk semakin menghayati panggilan ekaristi untuk menjadi ''roti kehidupan'' yang hidup dengan semangat penebusan. Dengan demikian, Ekaristi menjadi sumber dan persiapan kita untuk menjadi utusan Tuhan agar dunia dikuduskan. Selamat memasuki Tahun Ekaristi 2012.

 

Pst. Eddy Putranto, OSC


[1] Tertio Millennio Adveniente, 55


Kirim Komentar