Ecclesiana

 

PERPINDAHAN USKUP BANDUNG, MGR JOHANNES PUJASUMARTA

Pada tanggal 12 November 2010, Pk. 18.00 WIB diumumkan secara resmi oleh Tahta Suci bahwa Mgr. Johannes Pujasumarta, Uskup Diosesan Keuskupan Bandung, diangkat menjadi Uskup Diosesan Keuskupan Agung Semarang dan Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung, Keuskupan Agung Jakarta diangkat menjadi Administrator Apostolik Keuskupan Bandung. Mgr. Johannes Pujasumarta menjadi Uskup Agung, setelah selama dua setengah tahun menjadi Uskup Sufragan dari Keuskupan Sufragan Bandung. Berita itu diumumkan secara resmi oleh Mgr. Leopoldo Girelli, Nuntius Apostolik, bertepatan dengan dimulainya Rapat Kerja Keuskupan Bandung (12-14 November) di Pesona Bamboe, Lembang. Setelah itu muncul beberapa pertanyaan seperti: bukankah Uskup bertugas di suatu keuskupan itu untuk seumur hidup, mengapa dipindah? Ada apa? Apa perbedaan antara Uskup Agung dan Uskup biasa (Sufragan)? Apakah berkaitan dengan jenjang karier seperti pekerja duniawi? Mengapa Mgr. Suharjo diangkat sebagai Administrator Apostolik? Ada perbedaan antara Administrator Apostolik dengan Administrator Diosesan? Di samping itu muncul juga aneka macam pendapat yang pada umumnya bernada ketidaksetujuan dan perasaan yang pada umumnya bernada kekecewaan, kesedihan.

Dalam tulisan ini saya mencoba membahas beberapa hal teknis yuridis yang perlu dipahami supaya gerak kehidupan Gereja juga semakin dipahami, termasuk dalam kepemimpinan. Pemahaman yang semakin baik diharapkan tidak mengganggu usaha dan dinamika pastoral di Keuskupan Bandung yang sudah berjalan. Usaha mengembangkan dinamika pastoral Keuskupan Bandung dalam dua setengah tahun ini dalam masa penggembalaan Mgr. Johannes Pujasumarta berjalan cukup baik, semakin banyak yang mau berpartisipasi mengembangkan Gereja Keuskupan Bandung. Kaum Imam, kaum religius, kaum awam semua bahu membahu mengembangkan reksa pastoral di dalam lingkungannya masing-masing.

Pemindahan Mgr. Johannes Pujasumarta dan Akibat-akibat yang Terkait

Dalam bahasan mengenai Tahta Lowong, kan. 416 Kitab Hukum Kanonik 1983 menetapkan: ''Takhta Uskup lowong dengan kematian Uskup diosesan, pengunduran diri yang diterima oleh Paus, pemindahan dan pemecatan yang diberitahukan kepada Uskup itu''. Tahta Keuskupan disebut lowong apabila tidak ada yang diangkat sebagai Uskup Diosesan untuk Keuskupan tersebut. Uskup Diosesan adalah Uskup yang diserahi reksa pastoral suatu keuskupan (kan. 376). Pengangkatan seseorang menjadi Uskup Diosesan hak prerogatif pemimpin tertinggi Gereja yaitu Paus (Kan. 377, § 1). Pengangkatan bisa dilakukan dengan mengangkat seorang Imam menjadi Uskup Diosesan atau dengan memindahkan seorang Uskup, entah itu Uskup Diosesan atau Uskup Tituler (kan. 376). Jadi, pemindahan Uskup Diosesan dari suatu keuskupan ke keuskupan lain merupakan salah satu cara pengangkatan atau penunjukan Uskup Diosesan suatu Keuskupan. Pemindahan tersebut diberitahukan oleh Bapa Paus (lewat oleh Nuntius) kepada Uskup tersebut (kan. 416).

Akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan pemindahan Mgr. Johannes Pujasumarta sebagai Uskup Diosesan Keuskupan Bandung ke Keuskupan Agung Semarang (sebagai Uskup Diosesan juga dan disebut dengan Uskup Agung) bisa dikelompokkan dalam dua bagian besar yaitu akibat setelah berita resmi disampaikan kepada Mgr. Johannes Pujasumarta (12 November 2010) dan akibat setelah Mgr. Johannes Pujasumarta pindah dan mengambil-alih secara kanonik Keuskupan Agung Semarang (7 Januari 2011). 

Beberapa akibat yang muncul setelah berita resmi pada tanggal 12 November 2010 Pk. 18.00 WIB mengenai pemindahan sampai dengan Mgr. Johanes Pujasumarta mengambil-alih secara kanonik Keuskupan Agung Semarang:


a)    Mgr. Johannes Pujasumarta memperoleh kuasa dan terikat kewajiban-kewajiban Administrator diosesan (bdk. kan. 418, § 2, no. 1). Mgr. Pujasumarta tetap menjadi Uskup Diosesan Keuskupan Bandung sampai pindah ke Keuskupan Agung Semarang tetapi kuasa yang dimiliki dan kewajiban yang diemban adalah kuasa dan kewajiban Administrator Diosesan. Mgr. Pujasumarta tetap menjalankan tugas rutin sebagai Uskup Diosesan, melaksanakan apa yang sudah diputuskan tetapi tidak boleh mengambil keputusan baru yang kemungkinan akan atau bisa merugikan Uskup Diosesan yang baru. 


b)    Segala macam kuasa Vikaris jenderal dan Vikaris episkopal terhenti, dengan tetap berlaku ketentuan kan. 409, § 2; 2'' (bdk. Kan 417 dan kan. 418, § 2, no. 1). Jabatan sebagai Vikaris jenderal dan vikaris episkopal melekat pada pribadi Uskup Diosesan dan bukan pada badan hukum (lembaga) keuskupan, maka apabila kuasa dan kewajiban Uskup Diosesan terhenti, terhenti pulalah kuasa yang dimiliki Vikaris jenderal dan Vikaris episkopal. Di Keuskupan Bandung saat ini hanya ada Vikaris Jenderal (Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo) yang diangkat pada tanggal 21 Juli 2008. Berdasarkan kan. 418, § 2, no. 1, kuasa yang dimiliki oleh Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo sebagai VikJen terhenti, artinya Rm. VikJen tidak lagi dapat bertindak dengan kekuatan hukum yang dimiliki sebagai VikJen. Rm. Paulus Wirasmohadi Soerjo hanya bisa bertindak dan tindakannya memiliki kekuatan hukum apabila ia mendapatkan kelimpahan wewenang dari Mgr. Pujasumarta (kan.131).


c)    Mgr.  Johannes Pujasumarta memperoleh remunerasi utuh yang sesuai dengan jabatannya dari Keuskupan Bandung. (bdk. Kan. 418, § 2, no. 2). Remunerasi dalam bahasa ekonomi berarti pendapatan, gaji. Walau Mgr. Pujasumarta sudah diumumkan secara resmi tetapi hidupnya tetap dijamin oleh Keuskupan Bandung sampai beliau pindah ke Semarang dan mengambil-alih secara kanonik Keuskupan Agung Semarang.


d)    Sejak tanggal 12 November 2010 sampai Mgr. Johannes Pujasumarta mengambil alih secara kanonik KAS (disepakati dengan KAS tanggal 7 Januari 2011), di dalam doa Syukur Agung kita masih tetap mendoakan ''Uskup kami Mgr. Johannes Pujasumarta'' karena tahta Keuskupan Bandung belum lowong.


2.    Akibat yang muncul setelah kepindahan Mgr. Johannes Pujasumarta ke Semarang:


a)    Tahta Keuskupan Bandung menjadi lowong pada saat Mgr. Johannes Pujasumarta pindah ke Keuskupan Agung Semarang dan mengambil-alih secara kanonik Keuskupan Agung Semarang, yang harus dilakukan paling lambat dua bulan sesudah berita pasti (resmi) mengenai pemindahan beliau (bdk. Kan. 418, § 1). Tanggal 12 November 2010 Pk. 18.00 dilakukan pengumuman resmi, maka paling lambat Mgr Johannes Pujasumarta harus pindah ke Semarang pada tanggal 12 Januari 2011 Pk. 18.00. Menurut pembicaraan dengan Rm. Pius Riana Prabdi, Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang, disepakati bahwa Mgr.  Johanes Pujasumarta akan diantar ke Semarang tanggal 6 Januari 2011 dan serah terima secara kanonik Keuskupan Agung Semarang akan dilakukan pada tanggal 7 Januari 2011, Pk. 10.00 WIB. Pada tanggal 7 Januari 2011, pada hari dilaksanakan upacara ambil alih secara kanonik KAS maka Keuskupan Bandung menjadi lowong (bdk. Kan. 418, § 1).

 

b)    Pada saat Keuskupan Bandung menjadi lowong maka Administrator Apostolik Keuskupan Bandung yaitu Mgr Ignatius Suharyo yang sekaligus Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta memulai tugasnya untuk memimpin Keuskupan Bandung. 


c)    Sejak saat itu pula di dalam Doa Syukur Agung tidak lagi disebut ''Uskup kami, Mgr. Johannes Pujasumarta'' tetapi ''Administrator Apostolik kami Mgr. Ignatius Suharyo''.


d)    Anggota Kuria (Sekretaris, Ekonom dan Dewan Keuangan) tetap melaksanakan tugas, kecuali Vikaris Jendral (Kan. 481 - § 1). Sebagai pribadi, Vikaris Jendral bisa ditunjuk untuk melaksanakan tugas dengan diberi delegasi (kan. 131).


e)    Dewan yang berhenti saat tahta lowong: Dewan Imam, Dewan Karya Pastoral (Kan. 501 - § 2), dengan tetap memperhatikan ketentuan Statuta masing-masing.


f)    Kolegium Konsultores tetap, bahkan memiliki peran khas dalam membantu Administrator Apostolik melaksanakan tugas penggembalaannya. Dalam beberapa hal Administrator perlu mendapatkan persetujuan dari Kolegium Konsultor:

    Sebelum memberhentikan kanselir dan para notarius lain (kan. 485)Ø

    Sebelum memberikan Ekskardinasi dan inkardinasi sebelum setahun setelah lowongnya tahta keuskupan (kan 272).Ø


Administrator Apostolik


Di dalam Kitab Hukum Kanonik, Administrator apostolik disebut secara eksplisit dalam kanon 371 § 2: ''Administrasi apostolik (yang didirikan secara tetap, bdk. Kan. 368) adalah bagian tertentu umat Allah yang karena alasan-alasan khusus dan berat oleh Paus tidak didirikan menjadi keuskupan, dan yang reksa pastoralnya diserahkan kepada Administrator apostolik yang memimpinnya atas nama Paus.'' Suatu bentuk Gereja partikular yang disamakan dengan Keuskupan. Hanya karena alasan-alasan khusus dan berat Paus tidak mendirikannya sebagai keuskupan tetapi sebagai Administrasi apostolik yang memiliki bentuk tetap. Administrasi Apostolik yang didirikan secara tetap tidak berubah menjadi keuskupan di kemudian hari, tidak seperti Prefektur Apostolik dan Vikariat Apostolik yang bisa menjadi keuskupan. Status yuridis Administrasi Apostolik ini sama atau setingkat dengan keuskupan.


Untuk tahta keuskupan yang sedang lowong, ada cara biasa dan cara tidak biasa untuk memilih Pemimpin yang melaksanakan tugas untuk sementara waktu sampai diangkatnya Uskup Diosesan. Cara yang biasa adalah Kolegium Konsultores dalam waktu delapan hari setelah Mgr. Pujasumarta mengambil alih secara kanonik Keuskupan agung Semarang pada tanggal 7 Januari 2011, memilih Administrator Diosesan (Kan. 421 - § 1). Jika dalam waktu 8 hari sesudah tahta keuskupan lowong karena alasan apapun tidak bisa terpilih secara legitim maka proses pemilihan tersebut diserahkan kepada Uskup Agung Jakarta (Kan. 421 - § 1). Cara yang tidak biasa adalah Tahta Apostolik mengangkat Administrator Apostolik yang biasanya diserahi tugas khusus pada saat melaksanakan tugas kepemimpinan sementara tersebut. Cara ini ditempuh pada umumnya karena ada alasan khusus.


Perbedaan mendasar antara Administrator Apostolik dengan Administrator Diosesan terletak pada proses pemilihan atau pengangkatannya. Dalam tugas keduanya mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama, seperti yang dimiliki Uskup Diosesan, kecuali yang menurut hakikat atau oleh hukum sendiri dikecualikan (kan. 427, § 1). Pada saat memulai tugas Administrator Apostolik tidak perlu peneguhan atau pengambilalihan secara kanonik karema tugas kepemimpinannya bersifat sementara (bdk. Kan 427, § 2). Sedangkan dalam tugas pelayanan secara prinsip sama dengan Administrator Diosesan. Administrator Apostolik, walau ditunjuk oleh Tahta Apostolik, tidak selalu dan tidak harus seorang Uskup. Tahta Apostolik bisa saja menunjuk seorang imam menjadi Administrator Apostolik. Beberapa hal yang dapat dilakukan Administrator Apostolik:


1.    Dalam kasus yang sungguh penting dapat membuka arsip rahasia (dilakukan sendiri) (kan. 490 § 2).


2.    Mengangkat atau mengukuhkan imam-imam yang secara legitim diajukan atau dipilih untuk suatu paroki (kan. 525).


3.    Menunjuk pastor paroki kalau tahta lowong atau terhalang sejak setahun (kan. 525), dengan tetap memperhatikan kebutuhan umat beriman untuk pemeliharaan jiwa-jiwa (kan. 151). Penunjukan pastor paroki selama tahta lowong merupakan pengecualian dari kanon 428 § 1: ''Apabila Takhta lowong tak suatupun boleh diubah'', karena di dalam kan. 525 § 1 administrator diosesan atau yang memimpin keuskupan secara sementara disebutkan secara eksplisit diberi kewenangan khusus untuk mengangkat atau mengukuhkan (kan. 163, 179 § 2) atau (§ 2) menunjuk pastor paroki, kompetensi yang disebut dalam paragraf kedua itu baru diperoleh kalau tahta lowong atau terhalang sejak setahun. Sebelum setahun kompetensi administrator diosesan dibatasi.


4.    Memberhentikan Pastor Pembantu karena alasan yang wajar (kan. 552).


5.    Memberikan surat dimisoria (rekomendasi) bagi para calon imam diosesan (kan. 1018).


Di samping beberapa hal yang bisa dilakukan, ada beberapa hal yang disebut secara eksplisit di dalam KHK tidak dapat dilakukan oleh Administrator Apostolik:


1.    Melakukan perubahan apa pun (kan. 428 § 1).

2.    Melakukan perubahan yang dapat merugikan keuskupan atau hak-hak uskup (kan. 428 § 2).

3.    Mengambil atau merusak dokumen dari kuria keuskupan atau mengubah sesuatu atasnya (kan. 428 § 2).

4.    Mendirikan perserikatan-perserikatan publik (kan. 312 § 1).

5.    Memberhentikan kanselir dan para notarius lain, kecuali dengan persetujuan kolegium konsultor (kan. 485).

6.    Memberikan jabatan kanonik (kan. 509).

7.    Memberikan Ekskardinasi dan inkardinasi sebelum setahun setelah lowongnya tahta keuskupan dengan persetujuan kolegium konsultor (kan 272).

8.    Menyerahkan paroki kepada tarekat religius klerikal atau serikat klerikal hidup kerasulan, juga mendirikan paroki di dalam gereja milik tarekat atau serikat (kan. 520 § 1). 

9.    Memberikan surat dimisoria bagi mereka yang telah ditolak untuk maju ke tahbisan oleh Uskup diosesan, atau oleh Vikaris maupun Prefek apostolik (kan. 1018 § 2).

10.    Memberhentikan Vikaris Yudisial dan Vikaris Yudisial Pembantu (kan. 1420 § 5).


Beberapa perbedaan antara Administrator Diosesan dan Administrator Apostolik yang kebetulan dijabat oleh Uskup Agung KAJ:


1.    Kewajiban untuk tinggal di Keuskupan Bandung (kan. 429) sulit untuk dilaksanakan karena Mgr. Ignatius Suharyo mempunyai tugas juga sebagai Uskup Agung KAJ.


2.    Sebagai seorang Adminsitrator Apostolik yang sekaligus seorang Uskup Agung, Mgr. Ignatius Suharyo bisa, bahkan harus mengangkat seorang Vikaris Jendral yang diberi kuasa berdasar jabatan untuk membantu Uskup memimpin seluruh Keuskupan (kan. 475).


Uskup Metropolit dan Uskup Sufragan


Uskup Metropolit yang adalah Uskup Agung dari Keuskupan yang dipimpinnya menjadi kepala suatu provinsi Gerejawi (kan. 435). Keuskupan Bandung berada dalam satu Provinsi Gerejawi dengan Keuskupan Bogor dan Keuskupan Agung Jakarta. Mgr. Ignatius Suharyo sebagai Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta adalah Uskup Metropolit. Uskup Metropolit (Uskup Agung) memiliki tugas:

Di dalam Gereja beberapa kali terjadi pemindahan Uskup, tetapi pemindahan tersebut tidak langsung berkaitan dengan jenjang karier. Saya lebih melihat pemindahan Uskup dilakukan pada umumnya karena ada kebutuhan pelayanan jiwa-jiwa, walau tampaknya berlaku juga ''yang bisa dipercaya dalam hal kecil akan dipercaya dalam hal besar'' (bdk. Mat 25:23). Bukan jenjang karier karena tidak semua Uskup yang dipindah menjadi Uskup Agung (Mgr. Kherubim Pareira dari Uskup Atambua menjadi Uskup Maumere). Uskup Metropolit bukan atasan dari Uskup Sufragan, ia tidak mempunyai kuasa kepemimpinan apapun di keuskupan sufragan (kan. 436 § 3). Kan. 436 - § 1 menyebutkan bahwa wewenang Uskup Metropolit di Keuskupan-keuskupan Sufragan adalah :


1.    menjaga agar iman dan disiplin gerejawi ditaati dengan seksama, dan melaporkan penyelewengan-penyelewengan, jika ada, kepada Paus;


2.    mengadakan visitasi kanonik, jika itu diabaikan Uskup sufragan, tetapi hal itu harus lebih dahulu mendapat persetujuan dari Takhta Apostolik;


3.    mengangkat Administrator diosesan, menurut norma kan. 421, § 2 dan 425, § 3.

Jelas bahwa kewenangannya berkaitan dengan iman, disiplin hidup menggereja, perhatian pada jiwa-jiwa dan bukan pada atasan-bawahan.


Penutup


Pengalaman yang baru bisa digunakan untuk memperkaya pengetahuan dan pendalaman hidup menggereja. Pemindahan Uskup dan pengangkatan Administrator Apostolik menjadi pengalaman baru untuk Gereja Keuskupan Bandung. Aneka macam pendapat dan perasaan muncul. Pada akhirnya yang menarik menurut saya, keterbukaan untuk melihat Gereja secara lebih luas, bukan hanya terbatas pada ''Gereja saya'', Keuskupan saya, paroki saya, stasi saya, lingkungan saya akan membantu kita untuk melihat gerak dan kehidupan Gereja yang sesungguhnya.


Menerima realita yang di luar rencana, perkiraan tidak selalu mudah. Namun, kesediaan kita untuk belajar menerima akan membantu kita mewujudkan secara lebih baik mimpi kita. Ada rahmat besar yang akan dianugerahkan karena kita pasti juga ingin atau terdorong untuk mewujudkan Gereja yang kita impikan bersama Bapak Uskup yang kita cintai. Ada keinginan dari seorang anak untuk menunjukkan diri pada orangtuanya bahwa dia bisa maju walau mesti hidup dan berjuang jauh dari orangtuanya. Semoga keinginan itu juga tertanam di dalam hati kita ketika kita melepas Mgr. Johannes Pujasumarta pindah ke tempat pelayanan yang baru.


Selamat Jalan Mgr. Puja, selamat melayani di tempat baru yang berbau lama.


R.D. Paulus Wirasmohadi Soerjo


Kirim Komentar