Dokumen

 

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2016

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2016

Dibacakan pada Misa Minggu Biasa V, 6/7 Februari 2016

MENGANDALKAN ALLAH, PANTANG MENYERAH

Saudara-Saudari yang terkasih,

Dengan menetapkan tahun 2016 sebagai Tahun Belas Kasih Allah,
Sri Paus Fransiskus mengajak kita ''untuk dengan lebih sungguh
menyerap belas kasihan Allah agar kita dapat menjadi tanda
efektif dari karya Bapa dalam hidup kita.'' (Misericordiae Vultus,
3) Dengan kesadaran akan belas kasih Allah itu, pada Rabu Abu,
10 Februari 2016, kita memulai masa Prapaskah sebagai saat
rahmat dan kesempatan khusus untuk bertobat agar makin dekat
dengan Allah. Pada saat itu kita disadarkan akan belas kasih Allah
supaya membenahi diri dari kelemahan dan dosa, meningkatkan
sikap peduli dan relasi dengan sesama, serta memperdalam
kehidupan rohani dan kedekatan dengan Allah. Sikap tobat itu kita
wujudkan melalui doa dan tapa, pantang dan puasa, serta amal dan
kasih.

Ada orang baik yang bertanya: ''Mengapa saya harus bertobat?''
Kalau pertobatan dilihat hanya dari aspek perbuatan jahat, orang
baik tak perlu bertobat. Kalau pertobatan dilihat sebagai jalan
untuk makin mendekatkan diri dan mengandalkan Allah sehingga
kita sungguh mengalami belas kasih Allah, setiap orang
membutuhkan pertobatan.

Dalam Injil hari ini (Luk 5: 1-11), Yesus bertemu dengan para
nelayan. Mereka menunaikan tugas sebagaimana mestinya,
namun gagal total. Sudah semalaman mereka berjuang mencari
ikan, namun tidak mendapatkan seekorpun. Kerja keras terasa sia-
sia. Usaha tekun tak berbuah. Pengalaman bertahun-tahun tak
menjamin keberhasilan. Di situlah mereka membutuhkan Yesus.

Yesus, wajah kerahiman Bapa, berinisiatif mendekati para nelayan
yang kecewa dan mungkin putus asa. Yesus meminjam perahu
mereka untuk menjadi sarana pewartaan-Nya, di mana Ia bisa
berdiri mengajar orang banyak. Permintaan-Nya disambut dengan
terbuka oleh para nelayan tersebut. Kesempatan ini dijadikan
Yesus sebagai jalan untuk mengubah hidup mereka.

Yesus meminta mereka: ''Bertolaklah ke tempat yang dalam'' (Luk
5: 4). Di situ Yesus mengajak mereka untuk keluar dari zona aman
dan nyaman yang selama ini dirasa cukup untuk hidup seadanya.
Bertolak ke tempat yang dalam membutuhkan usaha lebih keras,
nyali lebih berani, dan risiko lebih besar. Bertolak ke tempat yang
dalam berarti membiarkan diri untuk mau dipimpin oleh Yesus.
Bertolak ke tempat yang dalam berarti menerima tantangan untuk
menjalani kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, bertolak ke
tempat yang dalam berarti sikap pasrah dan percaya untuk diubah
oleh Tuhan.

Secara material mereka mendapat ikan dengan jumlah tak
terhingga. Secara sosial mereka menyadari bahwa rejeki perlu
dibagikan. Secara komunal mereka meyakini bahwa pekerjaan
perlu dilakukan bersama-sama dan hasilnya pun dinikmati
bersama-sama. Secara spiritual mereka diteguhkan bahwa
bersama Yesus selalu ada jalan. Di sanalah mereka mengalami
perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan; yang
menyadarkan dosanya sebagaimana diakui Petrus: ''Tuhan,
pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa.'' (Luk 5: 8)

Petrus bukanlah orang berdosa yang melakukan kejahatan. Ia
perlu bertobat karena belum mengandalkan Tuhan hingga saat
gagal ia menyerah kalah. Selama ini ia mengandalkan diri dan
hidup untuk dirinya sendiri. Saat Petrus menyadari kedosaannya,
Yesus mengajaknya meningkatkan mutu hidup dari nelayan ikan
yang mementingkan diri sendiri menjadi penjala manusia yang
peduli pada sesama. Itulah kisah Petrus dan teman-temannya yang
mengandalkan Yesus hingga tak menyerah pada kegagalan.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Saat ini cukup banyak orang bertemu pintu tertutup bagai jalan
buntu seperti yang dialami Petrus dan teman-temanya. Di tengah
kesulitan ekonomi, ada orang yang menderita kekurangan hingga
hidup sengsara. Di tengah tuntutan pekerjaan, ada orang yang
merasa sarat dengan beban hingga hidup tertekan. Di tengah usaha
hidup sehat, ada orang yang sakit berat hingga hidup sekarat. Di
tengah godaan dunia yang menggiurkan, ada orang yang tak
berdaya keluar dari belenggu kebiasaan buruk hingga hidup putus
asa. Di tengah impian akan kebahagiaan berkeluarga, ada orang
yang tidak setia pada janji perkawinannya hingga hidup gelisah.
Di situlah, orang membutuhkan kehadiran Yesus yang
memanggilnya: ''Bertolaklah ke tempat yang dalam!''

Ajakan bertolak ke tempat yang dalam sebagai undangan untuk
makin mengandalkan Allah menjadi bagian dari masa pertobatan
yang pada tahun ini bertema ''Hidup Pantang Menyerah''. Kita
mau dan mampu hidup pantang menyerah kalau mengandalkan
Allah dan percaya bahwa Allah akan memberi jalan keluar tepat
pada waktunya dengan cara yang pas asalkan kita tetap berusaha.
Ajakan bertolak ke tempat yang dalam sebagai undangan untuk lebih
memperhatikan sesama menjadi bagian dari tobat kita entah dalam
pekerjaan maupun pelayanan. Kedekatan dengan Allah memacu
kepedulian pada sesama dan peningkatan hidup pribadi.


Saudara-Saudari yang terkasih,

Semoga laku tobat kita pada masa Prapaskah ini membawa
perubahan kualitas hidup. Dengan matiraga dan puasa, kita
menjadi orang yang makin mampu mengendalikan diri dan giat
bekerja pantang menyerah. Melalui doa dan tapa, kita menjadi diri
yang lebih pasrah dan mengandalkan Allah. Lewat amal kasih,
kita menjadi pribadi yang makin peduli pada sesama. Perubahan
kualitas hidup ini hanya terjadi kalau kita terbuka membiarkan
Tuhan masuk ke dalam perahu hidup kita dan dengan penuh iman
mengikuti undangan-Nya untuk bertolak ke tempat yang dalam.

Pada Tahun Keluarga Keuskupan Bandung (2016-2018), secara
khusus saya mendoakan saudara-saudari untuk setia menjaga
kekudusan sakramen perkawinan dan keutuhan keluarga. Kalau
menemui kesulitan bagai jalan buntu, undanglah Tuhan yang
penuh belas kasih untuk memasuki bahtera keluarga saudara
sekalian dan bersama Tuhan bertolaklah ke tempat yang dalam.


Bandung, 2 Februari 2016
Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah

Ut diligatis invicem,



+Antonius Subianto Bunjamin OSC
Uskup Bandung