Ecclesiana

 

ANAK MISIONER: MASA KINI DAN MASA DEPAN GEREJA

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC
- Uskup Bandung -

Sumber:

KOMUNIKASI (Majalah Keuskupan Bandung)/No. 435/Januari 2017

Sekitar dua tahun lalu, lebih dari sepuluh tahun anak SD yang didampingi beberapa pembina dari Karya Kepausan Indonesia - Komisi Karya Misioner (KKI-KKM) Keuskupan Bandung datang berkunjung ke Keuskupan. Anak-anak tersebut mohon berkat Uskup sebelum berangkat untuk mengikuti SOMA, yaitu School of Missionary Animators. Sekolah animator misioner ini bertujuan membantu anak-anak untuk memahami prinsip-prinsip dan pengetahuan dasar tentang animasi, formasi, dan organisasi yang berkaitan dengan misi dan tugas perutusan sebagai murid-murid Tuhan. Pada waktu itu, saya terhenyak menyaksikan anak-anak yang sudah memiliki komitmen misioner. Mereka siap untuk menjadi misionaris bagi teman-teman dan saudara-saudarinya. Beberapa anak menampilkan keahliannya sebagai seorang animator misi untuk mewartakan Kristus. Melihat kemampuan dan kesungguhan mereka untuk menjadi utusan yang mewartakan Injil Kristus kepada sesamanya, kita disadarkan bahwa anak-anak kini bukan lagi hanya menjadi subjek pendidikan agama dan ajaran iman, melainkan juga subjek pewarta Injil dalam Gereja. Mereka tidak lagi diperlakukan sebagai ''anak bawang'' dalam tugas pewartaan karena ternyata mereka mau dan mampu ambil bagian secara aktif dan kreatif dalam tugas pewartaan tersebut. Itulah anak-anak misioner yang menjadi masa kini dan masa depan Gereja.

Tujuan panggilan para murid dengan sangat bagus dirumuskan dalam Markus 3:14, ''Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.'' Setelah kebangkitan-Nya, Yesus mengutus para murid ke seluruh dunia dengan menekankan dua tujuan terakhir, yaitu memberitakan Injil dan mengusir setan (Mrk. 16:15-18) karena tujuan pertama, yaitu tinggal bersama Dia telah terlaksana selama Yesus hidup bersama dengan murid-murid-Nya. Apa yang harus dilakukan oleh murid Yesus sebagai tugas misioner tampak dalam Injil Yohanes bab terakhir, yaitu bagaimana kita sebagai murid-murid Tuhan mampu membawa dan menunjukkan Tuhan kepada setiap orang dengan berseru: ''Itu Tuhan!'' sebagaimana murid yang dikasihi menunjukkan Tuhan kepada Petrus (Yoh. 21:7). Hal ini hanya mungkin kalau kita terlebih dahulu telah melihat Tuhan pada sesama. Itulah tugas pewartaan Injil setiap murid Tuhan, yaitu menunjukkan Tuhan kepada sesama.

Para rasul sungguh ''melihat'' Yesus sebagai Tuhan setelah kebangkitan-Nya. Mereka yang telah hidup bersama, dekat dan akrab, lalu mengakui Yesus sebagai Tuhan adalah para murid yang siap diutus untuk menghadirkan Tuhan melalui berbagai kebajikan yang telah diwartakan dan dilakukan oleh Yesus sendiri. Itulah tugas misioner yang diemban oleh para murid. Karena tugas perutusan tersebut, mereka mungkin mengalami salib dan penderitaan sebagai bagian dari tugas misioner.

Para murid sungguh mengenal Yesus sebagai Tuhan dalam mujizat saat mereka mengalami kegagalan (Yoh. 21:1-14). Mereka mengenal Tuhan saat mengikuti apa yang disabdakan Yesus untuk menebarkan jala di sebelah kanan sekalipun mereka telah semalam suntuk mencari ikan tetapi tidak mendapatkan. Hasil dari ketaatan ini adalah mereka mendapatkan 153 ikan (semua jenis ikan yang kiranya dikenal pada waktu itu). Tujuan akhir kemuridan adalah mau mengakui dan mampu mengenal Tuhan dalam kehidupan yang kemudian diwujudkan dalam tugas misioner. Tujuan karya misioner adalah menunjukkan Tuhan kepada sesama: ''Itu Tuhan!'' Tugas misioner itu pasti membawa konsekuensi salib. Dalam homili misa pro ecclesia dengan para kardinal, Sri Paus Fransiskus berkata: ''Ketika kita melakukan pekerjaan tanpa salib; dan ketika kita mengakui Kristus tanpa salib; kita bukan murid Tuhan; kita bersifat duniawi, kita adalah para uskup, imam, kardinal, Paus, tetapi bukan murid Tuhan'' (14 Maret 2013).

Dalam Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium,  Sri Paus Fransiskus menekankan tanggungjawab misioner kita sebagai tugas utama murid-murid Kristus. ''Kegiatan misioner masa kini masih merupakan tantangan terbesar dalam Gereja dan tugas misioner harus tetap menjadi yang utama'' (EG 15). Itulah tugas misioner yang berasal dari amanat perutusan Yesus. ''Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman'' (Mat. 28: 19-20). Lebih lanjut Sri Paus Fransiskus mengajak setiap orang Kristus untuk siap diutus, bergerak ke luar. ''Setiap umat Kristiani dan setiap komunitas harus mencari dan menemukan jalan yang ditunjukkan Tuhan, tetapi kita semua diminta untuk mematuhi panggilan-Nya keluar zona nyaman kita untuk menjangkau seluruh 'periferi' yang memerlukan terang Injil'' (ayat 20).

Tugas misioner mengajak kita untuk ''keluar dari diri sendiri.'' Jangan keluar kalau belum pernah berjumpa dengan Tuhan. Jangan pergi ke ''pasar'' tanpa terlebih dahulu mendapat ''makanan'' di ''altar'' dalam perayaan Ekaristi supaya tidak kesasar. Tinggallah dulu bersama Tuhan (Yoh. 15:19) supaya mengalami sukacita Injil, baru pergi keluar mewartakan Kristus dengan penuh sukacita dan melakukan berbagai kebajikan. Kita layak pergi keluar melakukan tindakan misioner kalau kita sudah melihat Tuhan seperti pengalaman para murid yang bersukacita saat melihat Tuhan (Yoh. 20:20, 25). Kita menjadi misioner unggul kalau (telah) menimba kekuatan dalam perjumpaan dengan Tuhan teristimewa dalam perayaan Ekaristi. Di situlah isi Evangelii Gaudium, di mana ''Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus'' (EG 1) meneguhkan tugas sebagai ''saksi sakramen universal keselamatan'' (Ad Gentes 1), ''untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa'' (AG 10). Di situlah sukacita Injil karena perjumpaan dengan Kristus menjadi motivasi dan isi dari tugas misioner sehingga hidup kita menjadi epifani ilahi.

Marilah kita membantu dan memberi kesempatan sebaik dan sebanyak mungkin kepada anak-anak untuk mau belajar dan siap sedia menjalankan tugas perutusan. Semoga anak-anak menyadari dan melaksanakan tugas misi sebagai murid Tuhan sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Anak-anak misi adalah masa kini dan masa depan Gereja.

Ut diligatis invicem
+ Antonius Subianto B, OSC


Galeri Foto

Majalah KOMUNIKASI/No.435/Januari 2017