Ecclesiana

 

BERSAMA USKUP: TERNYATA PANGGILAN MENJADI IMAM MASIH SUBUR

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC - Uskup Bandung -

Sumber: 

KOMUNIKASI (Majalah Keuskupan Bandung)/No. 436/Februari 2017

Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa saat ini panggilan menjadi imam mengalami penurunan yang tajam. Bahkan ada yang berpendapat bahwa Gereja mengalami krisis panggilan. Benarkah demikian? pada kenyataannya banyak keuskupan dan konggregasi mengalami penurunan jumlah peminat untuk menjadi imam. Hal ini juga dibuktikan dengan adanya penurunan jumlah anak muda yang mendaftar ke seminari menengah sebagai tempat awal pendidikan calon imam. Apalagi ada cerita dan data yang menyatakan bahwa panggilan menjadi imam di Eropa yang menjadi tanah air subur para misionaris yang diutus ke seluruh dunia sekitar 100 tahun yang lalu telah mengalami paceklik panggilan yang berkepanjangan. Banyak konggregasi di Eropa tidak memiliki calon imam sejak 40 tahun yang lalu. Berita tersebut makin meneguhkan asumsi bahwa di Indonesia pun tak terhindar dari krisis panggilan. Benarkah demikian?

Di Keuskupan Bandung, ada Seminari Menengah Cadas Hikmat, yang kini berusia 70 tahun. Dalam 10 tahun terakhir jumlah peminat yang mendaftar terus menurun hingga tak seorang pun yang mendaftar. Sejak tahun 2014, para imam dianjurkan untuk melakukan promosi panggilan di tempat karya masing-masing teristimewa dengan menyapa kaum muda dan mengundang mereka untuk terbuka pada panggilan Tuhan. Lebih dari itu, para imam diajak untuk memberi contoh dan teladan sebagai gembala yang baik hingga banyak kaum muda tertarik untuk menjadi imam. Sementara itu, doa panggilan terus digalakan. Pada awal 2016 dimulailah proses revitalisasi Seminari Menengah Cadas Hikmat dengan memindahkan lokasi, menambah fasilitas, memperbaiki program, dan menyediakan tenaga imam yang penuh waktu. Alhasil 11 dari 15 anak muda yang mendaftar diterima di tahun pertama. Untuk tahun 2017, sudah terjadi tes masuk gelombang I (November 2016) yang diikuti 18 orang muda. Tujuh di antaranya diterima sebagai seminaris untuk tahun ajaran 2017. Tes gelombang II (Maret 2017) masih juga diminati banyak anak muda. Ternyata panggilan itu masih subur. Ternyata masih banyak anak muda yang mau menjadi imam.

Dalam Injil, Yesus mengajak kita untuk meminta kepada Allah. ''Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.'' (Mat. 9:37-38). Yesus sendiri telah mengantisipasi keadaan bahwa karya dalam Gereja yang harus dituai banyak, tetapi pekerja, yaitu para imam yang menggembalakannya sedikit. Yesus menjamin bahwa tak akan kekurangan imam (pekerja kebun anggur Tuhan). Yang diperlukan adalah meminta kepada Allah yang empunya para imam untuk mengutus para calonnya. Dengan begitu, kita diajak untuk berdoa kepada Allah agar banyak panggilan. Krisis panggilan terjadi, salah satunya, karena kita kurang berdoa; tidak cukup memohon kepada Allah untuk memanggil dan mengutus lebih banyak kaum muda.

Penurunan jumlah panggilan menjadi imam bisa disebabkan oleh banyak hal. Keluarga adalah tempat pertama iman tumbuh dan panggilan menjadi imam berkembang. Kalau dalam keluarga tiada kebiasaan doa, membaca Kitab Suci, kebersamaan dalam merayakan Ekaristi, dan penghargaan pada panggilan imam, bagaimana mungkin seorang anak bisa tertarik menjadi imam. Gereja setempat sangat berperan dalam menumbuhkan panggilan imam melalui kegiatan aksi panggilan, ajakan dari para imamnya, atau melalui kegiatan putera altar, Legio Maria dan mudika. Biaya masuk seminari menengah tidaklah murah. Bagaimana mungkin keluarga sederhana dapat membiayai anaknya secara ekstra masuk seminari kalau tanpa bantuan Gereja setempat atau sponsor tertentu. Di lain pihak, keadaan ekonomi yang makmur bisa menyebabkan anak-anak tak mau menjadi imam karena berbagai kemajuan yang memanjakan hingga keinginan untuk melayani dan mengabdikan diri bagi Gereja kurang berkembang. Tentu pada kenyataan ada juga anak-anak yang berasal dari keluarga berkecukupan rela menjadi imam. Gaya hidup modern dengan mentalitas narsistik dan hedonistik  yang mencari kesenangan dan kenikmatan diri sendiri menggerus semangat berkorban yang dibutuhkan bagi calon imam. Kalau sejak masa kanak-kanak, seseorang dibiasakan berorientasi pada diri sendiri, bagaimana mungkin akan tumbuh keinginn mengabdi sesama. Akhirnya, teladan dan komitmen para imam sangat mempengaruhi suburnya panggilan. Di tempat di mana para imamnya memberi teladan sebagai gembala yang baik dengan komitmen pelayanan dan pengorbanan luar biasa demi umat, panggilan pun subur.

Di balik semua alasan menurunnya jumlah imam, yang paling penting adalah doa. Kita harus terus-menerus berdoa agar Allah berkenan memanggil banyak anak muda. Tiada alasan apapun yang dapat menghalangi Allah kalau ia berkehendak memanggil seseorang menjadi imam. Itulah yang disharingkan di banyak tempat oleh pasutri Aloysius Sanjaya dan Esther Widyawati, keluarga pengusaha Katolik dari Kelapa Gading, yang memiliki dua anak laki-laki yang bersekolah di Amerika. Mereka berharap bahwa kedua anaknya menjadi ahli waris usaha keluarga di bidang konstruksi baja. Akan tetapi, saat Allah memanggil kedua anaknya, mereka tak mampu menahannya. Kini kedua anaknya telah berkomitmen mengabdikan diri sepenuhnya pada Allah dalam Gereja-Nya. Anaknya yang bungsu, Edwin, menjadi imam di Amerika dan yang sulung, Cornelius, menjadi biarawan di Prancis.

Ada seorang bapak atau ibu berdoa demikian: ''Ya Tuhan, kami kekurangan imam. Panggilah anak-anak muda untuk menjadi imam supaya dapat melayani Gereja-Mu. Akan tetapi, Tuhan. . .  tolonglah jangan panggil anakku . . . biarlah anak tetangga . . .!'' Bagaimana kalau anak berdiri sendiri yang mau menjadi imam, apakah mendapat dukungan yang cukup? Kalau Allah yang memiliki anak itu menghendaki, mengapa manusia, terutama orang tua, yang dititipinya berani menghalangi kehendak Allah?

Untuk tahun ajaran yang dimulai Juli 2016, Keuskupan Bandung menerima 10 calon imam yang memasuki masa Tahun Rohani dan Ordo Salib Suci menerima 10 calon imam juga yang memasuki masa novisiat. Ternyata panggilan menjadi imam masih subur. Marilah kita berdoa kepada Allah agar Ia memanggil dan mengirim lebih banyak pekerja lagi untuk Gereja-Nya. Makin banyak kita berdoa, lebih banyak lagi Allah memanggil anak-anak muda. Kalau Allah memanggil seseorang, tak mungkin ada yang bisa menolak panggilan-Nya. Siapa tahu Saudara juga dipanggil menjadi imam! Bukalah hati Saudara dan ikutilah panggilan Tuhan!


Ut diligatis invicem

+ Antonius Subianto B, OSC




Galeri Foto

Majalah Komunikasi 436/Februari 2017