DKP

 

Doa Hari Jumat, 15 Desember 2017

Kata orang Jawa, ''sing waras ngalah'' (yang sehat mengalah). Lebih baik tidak usah ditanggapi dan dibiarkan. Apa yang kita anggap baik, kita jalan terus. Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.


Bapa kami yang adalah sumber kasih
dan kami sebut dengan Allah adalah kasih,
Engkau yang Roh adanya
bertahta di Sorga, dan sempurna.

Kami bersyukur karena dapat mengenal-Mu
melalui Yesus,  Sang Putra yang turun ke bumi
dan menjelma menjadi manusia.
Ia yang mengosongkan diri, sebagai bayi kecil dan kudus,
Anak Manusia dari Yusuf dan Maria,
pasangan yang Bapa tentukan
mereka yang berasal dari keturunan bangsa pilihan
untuk menghadirkan Messias, Al-Masih

Kami bersyukur
karena dalam suasana peringatan kelahiran Yesus
Kau libatkan kami dalam banyak hal
dan penyertaan-Mu selalu ada bersama kami.
Ada di dalam kami, mengubahkan kami
dengan memiliki pengertian baru
untuk bisa menjadi saksi-Mu,
dengan melakukan apa yang pernah Yesus lakukan
dengan sangat perduli kepada sesama
bukan hanya kepada keluarga dengan ikatan darah
atau kepada rekan atau teman dekat,
namun lebih luas dari itu semua.
Peduli kepada siapapun
yang Kau ijinkan berinteraksi dengan kami,
yang Kau hadirkan di perjalanan waktu kami,
tidak hanya berkaitan dengan bulan kelahiran-Mu saja,
namun untuk waktu lain setelahnya.

Untuk menjadi seperti-Mu, Tuhan Yesus
ada perintah untuk menyangkal diri,
ada perintah untuk memikul salib,
dan mengikut-Mu Tuhan Yesus.

Untuk melaksanakan semua itu
ternyata kami butuh waktu yang lama.
Sekarang, kami baru bisa memulainya
dalam suasana Natal tahun ini.
Kami bersyukur
karena Engkau selalu memberi kesempatan
untuk melakukannya, dan kami bersedia.
Di dalam nama-Mu kami telah berdoa
dan mengucap syukur.
Amin
 

By : Team Moderator DSM
RH Mutiara Iman


Jumat, 15 Desember 2017 dalam pekan Adven kedua
(by: Rm. F.X. Sugiyana, Pr)

Mutiara Iman:
''Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.'' [Mat. 11: 19]
 
BACAAN PERTAMA [Yes. 48: 17-19]
Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, ''Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku''.
 
MAZMUR TANGGAPAN : Mzm. 1 : 1-2. 3. 4. 6; R. Yoh 8 : 12
Refr.    Barangsiapa mengikuti Aku,
            mempunyai cahaya kehidupan.
 
Mazmur:
+        Berbahagialah orang yang tidak mengikuti nasihat orang berdosa,
         tidak menempuh jalan orang sesat
         dan tidak bergaul dengan kaum pencemooh;
         tetapi yang suka akan hukum Tuhan
         dan mendarasnya siang dan malam.
 
+       Ia bagaikan pohon di tepi aliran sungai,
         yang menghasilkan buah pada musimnya.
         Daunnya tak pernah layu,
         barang apa yang dihasilkannya bermutu.
 
+       Sebaliknyalah orang berdosa,
         mereka bagaikan sekam yang dihamburkan angin.
         Sebab Tuhan menjamin hidup orang jujur,
         tetapi hidup orang berdosa menuju kebinasaan.
 
BAIT PENGANTAR INJIL
P        Alleluya...
U       Alleluya...
P        Tuhan pasti datang, sambutlah Dia,
          Ia memperjuangkan damai sejahtera.
U       Alleluya...
 
BACAAN INJIL [Mat. 11: 16-19]
Yesus berkata kepada orang banyak, ''Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya''.
 
MEDITATIO:
Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan orang yang ''asal beda'' dalam segala pendapat dan tindakan. Istilah Jawa, sikap seperti itu dikatakan, ''waton sulaya''. Orang yang demikian selalu menyimpang dari pendapat bersama. Tidak ada dasar dan alasan yang kuat, tetapi segalanya dilakukan untuk sesuatu yang tidak jelas. Ia selalu mencari celah yang tidak dipikirkan orang atau yang bertentangan dengan pendapat yang sudah diambil. Apakah untuk mencari sensasi? Atau sekedar untuk menambah persoalan? Tidak jelas juga.
 
Orang-orang yang seperti itu rupanya sejak jaman Yesus juga sudah ada. Ia selalu berkomentar yang negatif atas segala yang terjadi. Seperti anak kecil yang diajak tidak mau, kalau ditinggal rewel. Yohanes tidak makan dan tidak minium dikatakan kerasukan setan. Sedangkan Yesus makan dan minum dikatakan seorang pelahap dan peminum.
 
Menghadapi orang yang demikian itu, kata orang Jawa lagi, ''sing waras ngalah'' (yang sehat mengalah). Lebih baik tidak usah ditanggapi dan dibiarkan. Apa yang kita anggap baik, kita jalan terus. Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.

CONTEMPLATIO:
Pernahkah Anda menghadapi orang yang rewel, mungkin dalam keluarga, pertemanan, atau pekerjaan? Rasanya mau nyerah. Tapi hari ini Tuhan meneguhkan dengan sikap-Nya yang tenang. Karena itu mohonlah ketenangan ketika menghadapi orang sulit, agar kita mampu menguasai mereka dan mengendalikan diri. Tuhan senantiasa memberkati.

ORATIO:
Allah Bapa yang mahakasih, kuatkanlah kami untuk terus melangkah dalam kebaikan, kebenaran, dan keutamaan sekalipun sering menghadapi benturan dan tantangan. Amin.

MISSIO:
Aku akan tetap berpikir baik dan positif terhadap orang-orang yang sulit.
 
ERH
UCAPAN YANG MENYAKITKAN
 
''Biar mereka mengutuk, Engkau akan memberkati;
biarlah lawan-lawanku mendapat malu,
tetapi hamba-Mu ini kiranya bersukacita.''
(Mazmur 109:28)

Baca: Mazmur 109
Dalam majalah Intisari, Desember 2016, ada survei menarik tentang efek perkataan positif dan negatif. Perkataan positif -- bisa berupa pujian, sanjungan, atau lainnya -- dapat membuat orang bergembira satu hari. Sementara perkataan negative -- bisa berupa hinaan, makian, dan sebagainya -- dapat membuat orang bersedih selama sembilan hari. Ternyata, banyak orang yang lebih suka memendam sakit hati ketimbang bergembira.

''Doa Seorang yang Kena Fitnah'', judul perikop hari ini dengan sangat baik menggambarkan keadaan Daud yang berduka karena kata-kata fitnah -- ''mulut orang fasik dan mulut penipu ternganga terhadap aku'' (ay. 2). Bila membacanya, kita akan mendapati bahwa ada pihak yang tidak suka kepada jabatan atau kedudukannya. Daud mengeluh, mereka memfitnah -- ''menyerang dan memeranginya tanpa alasan'' (ay. 3). Karenanya, ia bahkan sampai merasa ''sengsara, miskin, hatinya terluka, dan menghilang seperti bayang-bayang'' (ay. 22-23).

Begitu besar pengaruh kata-kata negatif yang mengandung kebencian, tak muncul dari pertimbangan atau kebijaksanaan, atau tak beralasan. Kata-kata demikian sangat destruktif, menggerogoti daya hidup yang ada pada diri seseorang. Selama ini, sudahkah kita mewaspadai apa yang keluar dari mulut kita? Mungkin kita tidak sadar, dengan kata-kata yang negatif, kita didekatkan dengan kutuk (ay. 17) atau kegagalan. Mari kita membiasakan diri dengan menjadi berkat, mengatakan hal-hal yang positif untuk membangun semangat dan kehidupan orang lain.

BIASAKANLAH BERPIKIR SEBELUM BERKATA-KATA,
KARENA PERKATAAN KITA, BARANGKALI,
AKAN SANGAT SERING DIPIKIRKAN ORANG LAIN
 
Ditulis oleh Sidik Nugroho
Tuhan memberkati+


Galeri Foto

Terang