Iklan

 

CASTING PEMAIN UNTUK ''PENARI''

 CASTING PEMAIN UNTUK ''PENARI''

 CASTING PEMAIN UNTUK ''PENARI''

 

JULIANA

Juliana, 20 tahun. Pandai menari jaipongan. Terpaksa menjadi seorang penari dan putus sekolah dikarenakan ayahnya meninggal karena kecelakaan dan emaknya lumpuh, Keadaan ekonomi yang sangat minim, membuat Juliana terpaksa menjadi seorang penari jalanan. Banyak dukanya ketika Juliana harus menjadi penari jalanan, namun Juliana terus berjuang demi kelangsungan hidupnya, dan juga untuk biaya pengobatan emaknya yang sangat dia cintai. Kesibukkannya mencari uang, membuatnya dia sedikit mengabaikan emaknya, sehingga Juliana menjadi sadar, ketika emaknya hampir tewas terbakar di rumahnya sendiri.

KARAKTER       : Energik, tak kenal menyerah, kuat memegang prinsip, mudah percaya pada orang lain, sangat mencintai emaknya.

JULIANA          :

(MENYETEL CD MUSIC TARIAN JAIPONGAN, LALU MENARIK DENGAN ENERGIK SESUAI DENGAN IRAMA MUSIKNYA, LALU BERHENTI KARENA SALAH GERAKAN. DENGAN KESAL DIA MEMATIKAN CD PLAYERNYA, MENARIK NAFAS PANJANG, TERTUNDUK SEDIH, LALU DUDUK LUNGLAI, MENATAP KE DEPAN, WAJAHNYA SAYU DAN PENUH KESEDIHAN) Aku tak tahu harus bagaimana lagi menjalani hidup yang serba sulit ini. Ketika orang lain seusiaku bersekolah, bercengkrama, bermain, jalan-jalan dengan teman-teman..... aku harus berkeliling kampung, menari untuk mendapatkan sedikit uang demi kelangsungan hidup dan membeli obat untuk emakku yang sakit dan lumpuh. Penari jalanan..... itulah yang aku kerjakan saat ini, setiap hari. Banyak godaan dari laki-laki iseng, yang coba-coba mengodaku... seperti pak Maman yang memintaku menari di acara ulang tahun anaknya. Ketika aku menemuinya untuk meminta bayaran yang dijanjikannya setelah aku menari, dia malah mengajakku pergi dan...... (BERHENTI SEJENAK, RAUT WAJAHNYA MENJADI TEGANG, MENAHAN AMARAH) Aku tak bisa melupakan perlakuannya yang kurang ajar dan merendahkan harga diriku sebagai seorang wanita. Aku berteriak dan marah, ketika dia mencoba merayu...”Jangan harap bapak dapat memperlakukan aku seperti seorang perempuan murahan ! Aku tidak mau ! Aku tidak mau....!!!” Aku berteriak, dan meninggalkannya ! Aku marah, aku merasan terhina ! (TERTUNDUK, MEREMAS-REMAS TANGANNYA, LALU BERDIRI SEJENAK). Namun, peristiwa itu tak membuatku surut untuk terus mencari uang dengan menari. Kesibukkanku menari dari satu tempat ke tempat lain, ternyata membuatku lalai mengurus emakku yang sedang sakit. Sampai..... suatu saat..... aku terkejut ketika sepulang aku menari.... aku melihat rumahku terbakar ! Oh Tuhan.... apa yang terjadi.... emakku.... emakku ada di dalam rumah yang terbakar itu ! (PANIK, WAJAH MENEGANG) “Emak......emak....emak !!!!!” Aku berteriak dan merangsek masuk ke dalam rumah yang terbakar. Aku harus menyelamatkan emakku.......! (BERLUTUT, LUNGLAI KEMBALI, TERISAK) Walau emakku dapat terselamatkan.... namun.... aku menyesal...... aku anak berdosa..... aku bersalah kepada emakku....... aku hanya ingat uang... uang.... dan uang... sementara... emakku tergolek tak berdaya di rumah sendirian..... (MENANGIS) Maafkan aku mak....... maafkan aku....... aku menyesal..... sangat menyesal..... aku berjanji... tak akan mengulang semua ini.... aku sayang emak....... aku... sayang emak.... (MENANGIS SEJADI-JADINYA) . (Cut.)

 

 

PAK DARNA

Pak Darna, 50 tahun. Ayah Juliana. Beliau pandai membuat angklung. Kecintaannya kepada angklung sama besarnya dengan kecintaannya kepada keluarganya. Perhatiannya kepada Salmah, istrinya dan Juliana anak satu-satunya, membuat keluarga terasa damai dan bahagia. Namun, suatu saat.... sepulang menjemput istrinya, Salmah.... pak Darna mengalami kecelakaan yang merenggut jiwanya.

Karakter          : Berwibawa, berjiwa seni musik, humoris, mencintai keluarganya, periang, jago bermain angklung.

Pak Darna        :

(TERSENYUM, MENGAMATI ANGKLUNG YANG BARU SELESAI DIBUATNYA, DICOBANYA BEBERAPA KALI) Hm....... beres oge kabehannana. Teu karasa.... geus jam 9 deui. (SEDIKIT TERIAK) Na.... nana...... mana kopina atuh ? Dari tadi abah minta kopi, belum juga jadi ? Ngambil cai di mana atuh ? Di Gunung ? Cepetan...... tunduh yeuh....! (MELIHAT ARLOJI) Jam setengah sapuluh...... si emak selesai ngajar tari di sanggar...... kuring kudu buru-buru ngajemput, kalo tidak.... si emak bisa manyun. He..he...he... tapi... melihat si emak manyun....... kuring mah resep pisan.... tambah seksi...... (TERTAWA LEPAS SENDIRIAN) Hush.... naha kuring teh seuri sorangan..... siga nu teu waras. (BERDIRI, MELONGOK KE DALAM RUMAH, MELIHAT ARLOJI LAGI) Kamana atuh si nana teh....??! Na....Nana....! Abah pergi dulu ya........ jemput emak..... kalo terlambat bisa kacau nih dunia persilatan.....! Kopinya nanti saja........ jangan di seduh dulu.... nanti dingin ! Abah pergi ya ! (SIBUK MENCARI HELM) Dimana Helm teh...... (TERIAK LAGI) Nana...... ari helm di mana ???? Wah... aya di dapur sigana mah............! (PERGI) (Cut.)

 

 

SALMAH

Salmah, 45 tahun. Ibu Juliana. Seorang guru tari di sebuah sanggar. Kecintaannya kepada seni tari rupanya menurun kepada anaknya, Juliana. Salmah sangat religius dan menjadi panutan Juliana. Dia sangat mencintai pak Darna suaminya, dan juga Juliana, anak satu-satunya. Namun, kecelakaan yang dialaminya telah mengubah seluruh kehidupannya. Salmah harus kehilangan pak Darna yang meninggal dalam kecelakaan itu... dan juga harus menerima kenyataan, karena Salmah menjadi lumpuh dan tak berdaya lagi. Dia tak bisa berbuat apa-apa, selain terbaring di tempat tidur ataupun duduk tak berdaya di ranjangnya yang reot. Namun, Salmah percaya... Tuhan telah mempunyai rencana indah untuk kehidupan keluarganya. Salmah sangat bersyukur, karena Juliana seorang anak yang berbakti. Julianalah yang sekarang menopang kehidupan keluarganya dengan menjadi seorang penari... dan Salmah selalu mendoakan Juliana... setiap saat......

Karakter          : Lembut, religius, lemah tak berdaya karena sakit, sangat sayang pada Juliana, bijaksana dan sangat pengertian.

SALMAH          :

(DUDUK TAK BERDAYA) Sudah malam........ Nana belum pulang...... (MENGHELA NAFAS PANJANG, RAUT WAJAH MENYIMPAN KESEDIHAN YANG MENDALAM). Kasihan Nana........ dia harus pontang panting mencari uang.... hanya untuk sekedar menyambung hidup, dan membelikan aku obat. Aku sering melihatnya pulang kecapean. Walau tak pernah mengeluh..... tapi aku tahu.... dia sangat capek....... (TERTUNDUK) Aku bersyukur, karena Tuhan selalu memberikan rejeki untuk kami berdua, lewat Nana yang terus kebanjiran order menari di tempat-tempat hajatan. Tapi....... aku ingin... Nana tetap memikirkan masa depannya sendiri. Aku ingin...... Nana bisa melanjutkan sekolahnya.....! (MENUTUP WAJAHNYA) Oh Tuhan..... mengapa aku harus menjadi lumpuh dan tak berdaya seperti ini ?! Aku tak bisa berbuat apa-apa... selain menjadi beban anakku. (TERISAK, MEMANDANG KE SALIB YANG TERGANTUNG DI DINDING, MEMBUAT TANDA SALIB, BERDOA) Ya Tuhan...... terima kasih, karena Engkau telah menganugerahkan seorang anak yang begitu baik, berbakti dan mengasihi orang tuanya..... aku mohon.... lindungilah dia dan berikanlah yang terbaik dalam kehidupannya......... Amin...... (TETAP MEMANDANG SALIB, AIR MATA MENGALIR DI KEDUA PIPINYA) (Cut.)

 

 

PAK MAMAN

Pak Maman, 40 tahun. Seorang juragan yang kaya raya di kampungnya. Dia sudah mempunyai 2 orang istri. Dia seorang laki-laki yang tidak tahan melihat gadis cantik. Dengan uangnya yang berlimpah, dia berpendapat bahwa setiap perempuan harus bertekuk lutut dihadapannya, dan menuruti segala keinginannya. Ketika bertemu dengan Juliana, pak Maman terpesona dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Juliana. Dia mencoba merayu Juliana untuk dijadikan istrinya yang ketiga. Segala rayuan gombalnya dilancarkan kepada Juliana, termasuk janji kemewahan dan kekayaan untuk Juliana. Namun, dia sangat marah dan kecewa, karena Juliana menolaknya.

Karakter          : Sombong, mata keranjang, genit, flamboyan, mudah tergoda wanita cantik, selalu memaksakan kehendak.

MAMAN           :

(BERJALAN MONDAR-MANDIR, SEKALI-KALI TERSENYUM SENDIRI) Aku tak bisa tidur, wajahnya...... bodinya... terus membayang di mataku. Sempurna..... betul-betul gadis idamanku. Tak kusangka.... ada mojang secantik ini...... aku harus mendapatkannya....! Aku harus menjadikan istriku yang ketiga. (BERPIKIR) Tapi... apa dia mau jadi istriku ? Ah..... siapa yang tidak mau menjadi istri Maman yang ganteng, tampan dan kaya raya ini ! He...he...he..... bodiku atletis... walau perut sedikit nonjol..... kumis lebat, jantan..... duit ? Jangan tanya....... sepuluh rumahpun sanggup aku belikan ! (DUDUK, MELAMUN SEBENTAR, MATANYA BERBINAR-BINAR, GENIT) Gila..... aku tak bisa melupakan kemolekannya. Bibirnya penuh dan merah..... alis matanya tebal, matanya bening seperti kaca........ wuah....... wanginya.... wangi badannya... sangat aku suka. Aku hampir lupa diri waktu melihatnya tadi menari. Goyangannya.... wuah..... membuat jantung berdetak tak menentu......! Hm....... (MENELAN LUDAH) Aku harus mendapatkannya. Besok... dia akan datang mengambil honornya. Aku akan merayunya.... aku akan memberinya uang yang banyak.... mengajaknya jalan-jalan, makan di restoran.... dan.... kalau bisa... aku bawa ke hotel sekalian......... (BERDIRI, MENGGOSOK-GOSOKKAN TANGANNYA) Oh... aku bisa memeluknya.... menciumnya.... hm........ he..he...he........ aku tak sabar pagi menjelang ! (DIAM SEJENAK, AGAK RAGU) Tapi.... apa gadis itu mau ? Ah...... kalo aku memberinya segepok uang...... dia pasti akan jatuh ke dalam pelukanku...... he..he.. (PERGI) (Cut.)

 

 

GUGUN

Gugun, 25 tahun. Gugun seorang laki-laki yang sopan, baik dan ingin menolong Juliana. Perlakuan pak Maman terhadap Juliana, membuat Gugun prihatin dan berniat membantu sekaligus melindungi Juliana dari godaan laki-laki hidung belang. Gugun menjadi manager Juliana, dan sejak saat itu, Juliana kebanjiran order menari. Namun, uang rupanya membuat Gugun lupa diri. Dia memaksakan Juliana untuk terus bekerja, tanpa mengenal waktu. Yang ada dipikirannya adalah..... uang yang terus mengalir ke kantongnya. Hal ini membuat Juliana menjadi kecewa, terlebih lagi ketika terjadi kebakaran yang hampir menewaskan ibu Salmah. Gugun menjadi sadar akan keserakahannya.....

Karakter          : Sopan, berambisi, cerdas, dapat melindungi, sedikit tamak, keras kepala, gentleman, mau mengakui kesalahan diri sendiri.

GUGUN           :

(BERJALAN MONDAR-MANDIR, MEMEGANG KEPALANYA, MEREMAS RAMBUTNYA, KELIHATAN KESAL SEKALI) Apa aku salah ? Apa aku orang yang tak punya perasaan ???? (MEMANDANG KE DEPAN, RAUT WAJAHNYA SERIUS, KESAL) Aku tak berniat jahat pada Juliana. Aku ingin menolongnya. Betapa mirisnya aku ketika menyaksikan bagaimana perlakuan tidak senonoh yang diperbuat pak Maman terhadap Juliana. Sejak saat itu.... aku bertekad untuk mengangkatnya dari lumpur kenistaan. (DUDUK, MENCOBA MENYAKINKAN PENONTON) Aku menjadi managernya. Aku mengatur semua jadwal manggung Juliana. Aku mencarikan klien.... dan Juliana punya banyak uang sejak saat itu ! Apa aku salah.... ketika malam itu aku mencoba menahan Juliana untuk tidak pulang..... aku hanya berkata, “ Dengar dulu Juliana.... kalo kamu tidak mau menari.... kita teh akan mendapat banyak kerugian ! (BERDIRI, BERBICARA SEAKAN-AKAN JULIANA DI DEPANNYA) Pertama... pak Ferry tidak akan membayar kita, dan meminta kembali uang muka yang sudah dia bayarkan... dan kedua.. ini yang lebih parah.... nama kamu teh bakal rusak, Na.... orang-orang bakal mencap kita orang yang tidak bertanggungjawab... tidak bisa mentaati perjanjian...... tah...... kalo sudah begitu..... kita tidak akan punya job lagi! Kamu bakal miskin lagi... tidak punya uang buat mengobati emak kamu yang lumpuh !” (MENUNDUK, MEREMAS RAMBUTNYA KEMBALI)  Malam itu... akhirnya Juliana mengalah... tapi.... gara-gara aku memaksakan kehendak..... rumah Juliana kebakaran dan hampir merenggut jiwa emaknya... ! (BERLUTUT, MENYESAL SEKALI) Aku menyesal....... aku tak boleh egois.... terus terang.... waktu itu... aku cuma memikirkan duit... duit.... dan duit....... kalo sudah begini.... Nana pasti benci padaku.....! Ohhhhh..... aku memang bodoh, bedegul, tak tau diri........ (WAJAHNYA MAKIN KUSUT, MENCOBA UNTUK TIDAK MENANGIS) Aku harus minta maaf pada Nana.... aku memang salah...... semoga aku dimaafkan......... (BANGKIT, LALU JALAN PERLAHAN DENGAN PENUH PENYESALAN) (Cut.)

 

 

DOKTER

Dokter, 40 tahun. Seorang dokter rumah sakit yang menyelamatkan jiwa Salmah ketika terjadi kebakaran.

Karakter          : Berwibawa, sabar, tenang

DOKTER          :

(BERBICARA DIHADAPAN NANA) Tak usah cemas, ya....... ibu nona sudah dalam keadaan stabil.....    Luka bakarnya cukup serius, tapi tak usah dikawatirkan.... kami sudah melakukan yang terbaik untuk mengatasi luka bakar ibu nona. Sekarang ibu nona sudah sadarkan diri, kalau mau melihatnya.... silakan... tapi jangan lama-lama ya..... sebab ibu nona perlu istirahat. Silakan...... (MENUNJUK KE KAMAR PERAWATAN) Kalau ada apa-apa... jangan ragu-ragu mencari saya.... saya akan segera datang untuk melihat kondisi ibu nona... okey ? (PERGI) (Cut.)